Pertama Kali “Turun Ke Jalan”

LANGKAH AWAL MEMULAI PERUBAHAN
Yogi S Prasojo

“….tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu alam, kau akan tahu siapa dirimu
yang sebenarnya hakikat manusia
akan aku telusuri jalan yang setapak ini
semoga kutemukan jawaban… (Ost.Gie)”

Sebuah syair perjuangan yang menjadi soundtrack film yang dibuat oleh anak negeri ini mengilhami saya mulai bertindak seperti ini. ”Gie”, merupakan film yang menceritakan perjalanan seorang demonstran yang luar biasa dan mampu mendongkrak semangat generasi muda. Dari lorong kegelapan berharap mendapat pencerahan dan menumpas ketidak adilan yang ada di sekitar untuk kepentingan orang banyak. Terlalu berlebihan mungkin jika ingin melindungi seluruh rakyat Indonesia, Presiden saja yang telah memiliki kekuasaaan dan kemampuan yang cukup untuk melindungi tidak mampu sepenuhnya melindungi warga negara Indonesia yang katanya beliau cintai dan sayangi.
Suara-suara dari akar rumputlah yang sedikit mampu menolong masyarakat Indonesia. Negeri ini ditangan rakyat. Negeri ini dibentuk oleh rakyat. Hasilnya pun untuk rakyat bukan kesenangan golongan-golongan tertentu. Jangan sampai merebut nyawa seseorang hanya karena kesalahan orang-orang besar, ambil saja satu contoh di Makasar yang merupakan negeri lumbung padi di Indonesia ini terdapat seorang ibu meninggal bersama kandungannya dikarenakan kurang asupan gizi. Milik siapa lumbung padi kita? Milik mereka yang kini tertawa terbahak-bahak diatas penderitaan orangkah? Saya harap itu milik kita.
Pikiran-pikiran itulah yang terbersit dari saya untuk turun ke jalan bersama teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melakukan aksi menolak ketidak adilan dan menumpas segala kebobrokkan negara. Saat itu tanggal 20 Februari 2008, saya bersama teman-teman BEM menyusuri jalan Yogyakarta untuk menuntaskan kasus mantan presiden Soeharto yang tidak kunjung kuncup dan para tersangka serasa terus berlari dari kesalahan. Aksi dengan mengusung tema “Aksi Diam” sampai puncak di kawasan Yogyakarta km 0.
Ini adalah awal kali saya ikut aksi turun ke jalan.

Sempat terbersit perasaan takut dan cemas saat ingin turun ke jalan dan memulai aksi. Apa yang ingin saya lakukan? Apa yang saya dukung? Bagaimana kuliah saya saat ini? Bagaimana keluarga saya dirumah?. Pertanyaan seperti itulah yang terus berseliweran melayang dipikiran saya. Awal tekad untuk membela keadilan dan menumpas keadilan sedikit mulai goyah saat beberapa teman kembali menyakan kesungguhan saya melakukan aksi ini.
Bingung dan ragu, apakah saya mampu dengan ikhlas melakukan aksi ini tanpa keinginan lainnya. Saya takut aksi ini hanya menjadi aksi yang sekedar aksi belaka , dan malah menjadi kegiatan yang mendzolimi banyak orang. Beberapa teman saya menanyakan kembali keseriusan saya, Apakah kamu siap? Keluarga mu bagaimana? Kamu yakin? Bagaikan terdakwa yang diadili dalam kursi listrik dan tak tahu akan menjawab apa karena takut salah dan tidak yakin, saya hanya diam dan tersenyum tersipu malu. Saya meminta waktu untuk memikirkan kembali keniatan saya untuk ikut aksi ini, dan perasaan itu belum muncul padahal peserta aksi telah bersiap-siap dengan berbagai kostum anarkis mereka.
Kembali rasa takut menghantui saya. Pernahkah kalian menonton film ”SAW” yang menceritakan seseorang yang terkunci dalam suatu ruangan dan lama-kelamaan akan disiksa. Seperti itulah mungkin gambaran diri saya saat akan mengikuti aksi. Berat langkah kaki untuk melangkah satu kali saja menuju tempat berkumpulnya aksi. Saya tentu tidak seharusnya begini, menjadi hamba Allah SWT yang plin-plan dan tak tahu arah tujuan.
Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 09.30 wib, peserta aksi siap berjalan menuju jalanann untuk berjalanan menuju Yogyakarta KM 0. Alasan apa yang harus saya utarakan pada mereka, jika aku tidak akan ikut aksi ini. Persoalan pelajaran sempat akan saya jadikan sebagai alasan, tapi semudah itukah saya meninggalkan amanah ini. Haruskah saya meninggalkan jam kuliah sekedar untuk mengikuti aksi ini, kuliah di UGM tidaklah murah sehingga satu mata kuliah saja itu berharga.
Pertanyaan muncul kembali di dalam jalan pikiran saya. Orang tua di rumah tidak ingin anaknya ikut-ikutan demo seperti ini. Saat awal menjadi mahasiswa baru pun, berbagai wejangan agar tidak ikut demo terus mengalir. Orang tua mengamanahi kita untuk senantiasa terus belajar dan nantinya akan membahagiakan orang tua serta jangan sampai mengecewakan mereka. Dahulu saat menjadi siswa SMA pun saya sering diberi tahu jangan meniru para mahasiswa yang berdemo, itu berbahaya dan tidak baik buat masa depan kita.
Ingatkah kalian tentang kasus Trisakti-Semanggi I dan Semanggi II (TSS) terjadi pada Mei 1998, November 1998, dan November 1999. Dalam kasus itu, terjadi pelanggaran hak asasi manusia berat dan peristiwa itu sempat menjadi berita menghebohkan di tanah air. Aksi mahasiswa yang menyumbangkan korban bergelimpangan itu pun sempat menjadi momok para orang tua menyekolahkan anak mereka di perguruan tinggi. Orang tua tidak ingin anaknya menjadi korban, aksi-aksi yang membahayakan dirinya dan memusnahkan masa depan mereka. Saat kita melihat televisi dan berisi berita mengenai aksi demonstrasi mahasiswa, pasti kita berfikir tiada penting yang dilakukan mahasiswa saat itu. Coba mereka memimpin negeri ini! Biar mahasiswa saja yang memimpin negeri ini. Ya, ucapan itu sering saya dengarkan saat menonton berita mengenai demonstrasi mahasiswa.
Setelah melamun memikirkan bagaimana keluar untuk tidak mengikuti aksi ini. Terdengar teriakan sang kepala departement advokasi.
” Yogi…ayo berangkat! Jangan terlalu banyak dipikir…”
Beliau kemudian mendekati saya dan memberikan spirit for change kepada saya.
” Yogi…ini adalah suatu amanah untuk menolak suatu ketidak adilan, ayo! Jangan menjadi seorang yang pengecut dan penghianat, kamulah calon pemimpin bangsa. Ayo, pikirkan dan kuatkan pikiran mu untuk ikut aksi ini. Kamu dahulu, awal berkomitmen mendaftar di BEM untuk memperjuangkan ketidak adilan kan? Jadi ayo tunjukkan komitmenmu itu sekarang….” Ucap beliau.
Dulu saya mendaftar di BEM memang untuk menghapus ketidak adilan. Ini memang konsekuensi saya yang telah mendaftar menjadi BEM. BEM bukanlah hanya menjadi tempat untuk mentenarkan diri. BEM adalah badan aspirasi yang siap membela kebenaran dan InsyaAllah menghapuskan ketidak adilan. Saat dilantikpun, anggota BEM berkomitmen untuk selalu melayani dan menumpas ketidak adilan yang terjadi.Jadi jika saya mundur dari amanah ini, tentu diangkap sebagai ”pengkhianat” dan seorang ”pengkhianat” haram hukumnya bagi setiap orang. Maka menjadilah seseorang yang kuat dengan komitmen yang telah mereka katakan.
Tepat pukul 10.00 wib, pikiran saya rasanya seperti tergeser dan mulai tergerak untuk maju. Segala pertanyaan yang tidak meyakinkan saya serasa terkunci dalam lemari besi dan kuncinya entah terbuang kemana. Segala pikiran buruk pun ikut terbakar dengan semangat yang kian lama mulai membara merah menyala. Ya, saya menerima tawaran kepada departemen advokasi saya untuk ikut ”Aksi Diam” ini. Saya teguhkan hati dan menatapkan mata ke depan untuk serius berjuang bersama teman-teman.
Saya menjadi pembawa spanduk bertuliskan ”Usut Tuntas Kasus Soeharto”. Dengan mulut tertutup, saya mulai perjalanan menuju tempat aksi teatrikal dilakukan. Dengan perasaan yakin kami berjalan dan menggambarkan menolak ketidak adilan yang sedang terjadi di Indonesia.
Ribuan mata tertuju pada kami, semua orang dari tukang becak sampai pengendara kendaraan bermotor melihat aksi yang kami lakukan. Tentu mereka memikirkan bahwa yang kami lakukan hanyalah aksi yang sia-sia semata. Namun tidak sedikit juga orang yang berpikir bahwa yang kami lakukan adalah suatu kemajuan besar untuk memperbaiki kebobrokan hukum dan keadilan di Indonesia. Ada yang tersenyum dan ada juga yang menertawakan apa yang sedang kami lakukan.
Di tengah perjalanan, saya mendapat giliran kehormatan membawa bendera merah putih. Sang merah putih berkibar gagah diatas kepala saya, berkibar merdeka diatas seorang yang ingin adakan perubahan. Setiap orang mungkin menganggap bahwa suara anak kecil tidaklah penting, seperti yang ada di sebuah iklan televisi dan media cetak yang menunjukkan bahwa ”yang muda yang tidak dipercaya” itu memanglah benar. Orang muda memang dipandang sebelah mata oleh orang yang menduduki jabatan tinggi, padahal dari generasi mudalah negeri ini dapat maju dan akan berjaya ditangan para generasi muda yang kritis, inovatif, dan berpikiran maju.
Sebuah truk petugas keamanan yang membawa kurang lebih sepuluh polisi, berjalan pelan di belakang barisan kami.Apa yang dilakukan oleh para polisi itu? Apakah mereka akan melakukan penyergapan seperti yang ada di televisi dan membawa kita ke kantor polisi untuk dinterogasi dan dijebloskan ke penjara? Atau sekedar sebagai pengamanan saja. Perasaan takut muncul kembali, saya tentu tidak menginginkan hal itu terjadi. Berdasarkan pengalaman, banyak para aktivis yang dijebloskan ke penjara dan menghabiskan separuh hidupnya di dalam jeruji besi berkarat. Perjalanan kita masih panjang, tentu tidak ingin menyianyiakan hidup ini hanya sekedar berdiam diri di penjara.
Ribuan mata kembali memandang kami, namun ini tak sekedar mata. Pancarannya mampu menembus sejumlah mata di pelosok tanah air bahkan dunia. Ribuan ucapan akan mengalir saat melihat kami melakukan aksi. Tidak hanya satu dua orang, namun berjuta orang kini bisa melihat yang kami lakukan. Kilatan lampu kamera ditambah panas matahari menemani aksi kita hari ini. Posisi saya kembali menjadi pemegang spanduk dan masih menggunakan penutup mulut. Puluhan kamera dari media cetak dan elektronik tertuju pada kami, para wartawan yang jumlahnya lebih banyak daripada pendemonstran terus meliput kegaitan kami. Sampai pada akhirnya kami menyanyikan theme song tiap para mahasiswa melakukan demo.
1 jam telah berlalu dengan perasaan bangga, aksipun berjalan lancar. Para wartawan dan satuan kepolisian perlahan mulai meninggalkan kami. Inilah demonstrasi yang pertama kali saya lakukan. Inilah sebuah langkah awal saya untuk sedikt berkiprah menyuarakan perubahan. Di dalam hati saya berpikir, inilah kegiatan mahasiswa yang sebenarnya. Berperan sebagai agen perubahan yang terus menyuarakan kebenaran. Kita tidak ingin hanya sebagai robot yang menurut setiap kata demi kata dari orang-orang besar yang katanya telah menghabiskan harta rakyat ini. Sebagai mahasiswa kita harus lebih peka terhadap masalah sosial. Teringat pada saat ospek dahulu yang selalu mengatakan bahwa kita adalah agen of change. Ya, inilah penerapannya, melalui demonstrasi kita buat perubahan.Tak perlu takut dengan segala sesuatu yang membuat kita mundur membela kebenaran dan menyuarakan perubahan, ketakutan memang ada di awal namun kebahagiaan akan muncul setelahnya. Mari kita dukung perjuangan mahasiswa Indonesia. Mari kita dukung perjuangan rakyat Indonesia. Namun, amanah orang tua kita untuk selalu menuntut ilmu dan senantiasa membahagiakan mereka janganlah kita abaikan.
Hidup Mahasiswa Indonesia!
Hidup Rakyat Indonesia!

7 thoughts on “Pertama Kali “Turun Ke Jalan””

  1. Tank yu udah comments…

    Emang sih ada beberapa orang yang ngira kalo demo itu nggak penting, hanya anarkhisme yang ditunjukkan…

    Tapi sebenarnya substansi demo itu bukan kayak gitu lho,,Demo itu kan lebih pada penyampaian aspirasi kita secara masal…kalau anarkis sih kita anggap itu bukan demo nya mahasiswa…Dan Terkadang media massa juga terlalu gede-gede in gitu…..
    Demo ITu juga pentingg banget loh buat ngelatih rasa berani kita….

    Alfie udah pernah ikutan demo??? Hahahahahah

    Kayaknya sering nih….

  2. saya tahu mengkoreksi penguasa itu tindakan terpuji tapi coba mas pikirkan berapa orang yang sudah jadi korban demo seperti itu ? berapa orang mahasiswa yang ikut demo ? tapi apakah kita sadar berapa orang mahasiswa yang memberi pengajaran pada orang yang tidak mampu ? kesadaran dari diri sendiri juga perlu kita tanamkan lebih utama ! apabila kita bersama membentuk pondasi bangsa yang kuat maka kita akan mudah menumbangkan kesewenang-wenangan jadi kalau kata saya membangun bangsa dari bawah lebih utama !!
    benar gak ? oh ya ngomong-ngomong di bogor ada kuliah gratis 1tahun namanya bogor educare bilang ke kerabat dan teman2 benar2 gratis 100% kok

  3. Memang dunia ini penuh pelangi, setiap orang seringkali berbeda pendapat. Perbedaan itulah yang akan memperkaya wawasan kita. Dengan prinsip saling menghormati hak orang lain yang harus selalu dijunjung. Dengan toleransi thd perbedaan itulah derajat kita diukur.

  4. salam kenal ………..aku patrmmy nak unsoed numpang nimbrung yach….ikutan demo???aku malah ga pernah ikutan tuh……….sama sekali…suer999999x ….sebenarnya sih pengen tapi berhubung ortuku ga ngebolehin ya udah nurutin katanya sih takut terjadi apa2………..anak mami banget ych …………dah mahasiswa masih takut….he…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s