Tiga Jam yang Berarti di Gaza

Tiga Jam yang Berarti di Jalur Gaza

(Mencoba Belajar Menghargai Waktu dari Peristiwa Gaza)gaza_child

“Makanan dan susu, apalagi yang kita bisa harapkan dalam waktu 3 jam dan kami ingin semua (perang) segera berakhir,” ujar Ahmed Abu Kamel, warga yang tinggal dekat Jalur Gaza seperti dilansir Reuters, Kamis (8/1/2009)

Memang benar, apa yang bisa diharapkan dengan waktu 3 jam. Hanya sedikit hal yang kita peroleh dengan 3 jam. Warga Gaza yang jiwanya kini tidak aman tentu memikirkan beribu-ribu kali hal apa yang hendak dilakukan dalam waktu 3 jam. Sedikit saja terlupa, fatalakibatnya.
Tiga jam yang sangat berarti di jalur Gaza. Jika mereka tertidur, apa yang terjadi? Segala sesuatu yang berkenanan dengan hidupnya akan berkurang. Dalam waktu 3 jam seluruh warga Gaza yang masih selamat segera berpencar mencari makanan dan minuman agar mampu bertahan hidup. Tidak ada lagi yang mereka cari. Keluar rumah pun suatu hal yang menakutkan untuk dilakukan.

180 menit…mengapa begitu? Mengapa hanya segitu?

Terlihat jelas-jelas itu hanyalah omong kosong, mempermainkan rakyat Palestina untuk kalang kabut sendiri. Israel keji tertawa lebar melihat kerumunan manusia yang menangis dan berharap belas kasihan seluruh warga di dunia.

Waktu Kita

Itu adalah sekilas cerita mengenai rentang waktu tiga jam yang ada di negeri Palestina. Namun, banyak hal yang dapat kita pelajari melalui peristiwa di Gaza itu. Manajemen waktu dan mencoba memanfaatkan waktu hanya untuk mengharap ridha Allah SWT.

Tiga jam yang kita miliki. Banyak ruang kosong dalam rentang waktu 3 jam. Bercanda, tertawa, ngobrol bahkan (maaf) berbuat maksiat. Astaghfirullah, betapa tega kita menyia-nyiakan waktu kita.

Gaza, bisa kita jadikan wadah muhasabah, merenung apa yang telah kita lakukan. Mencoba mencari jawaban atas apa yang telah kita pertanyakan. Dalam 3 jam kita bisa melakukan apapun yang kita mau, namun di Gaza, waktu itu sungguh sempit rasanya.

Renungkanlah kembali, dalam 3 jam apa saja yang dapat kita berbuat?

Gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya karena sedetik dalam hidup mu adalah karunia dan nikmat Allah yang tiada tara.

Saat kalian terbangun di pagi hari, kita kembali bernafas untuk melakukan aktifitas. Sayangnya, kita sering lupa bahwa sedetik hidup ini adalah karunia Allah. Desiran nafas ini adalah nikmat Allah. Langkah ini adalah kehendak Allah. Kata-kata yang keluar ini adalah nikmat Allah. Cobalah hargai waktu yang tela diberikan.

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan [36:65].

Semoga ini dapat menjadi renungan saia dan kita bersama. Penulis senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT. jika salah dalam meyampaikan dan melakukan yang ditulisakan dengan sebaik-baiknya. Mari kita belajar bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s