Ants Became Elephants

Teringat permainan psikologis yang sering dilakukan dalam pelatihan diri atau sejenisnya. Dimana semut yang berukuran kecil diperintahkan untuk dibayangkan sebagai sesuatu yang besar, dan begitu sebaliknya. Sangat bagus makna yang terkandung yaitu mengartikannya untuk berpikir Out Of The Box. Tapi tidak salah jika kita memaknainya sebagai sesuatu yang kecil dapat menjadi permasalahan yang besar. Secuil saja akan berdampak sistematik dalam permasalahan besar yang dihadapi.

Seperti itu yang penulis rasakan pada permasalahan yang kini sedang menguras perhatian kita. Mulai dari kasus Bank Century, tuduhan pembunuhan, hingga permasalahan korupsi. Coba lihat disetiap pertemuan ataupun sidang yang dilakukan. Hal-hal kecil kini menjadi bahan untuk dijadikan acuan berpikir mereka. Memang sedikit kurang valid jika dijadikan sumber hukum dan proses melangkah pengambil keputusan. Tetapi kenyataan di lapangan membuktikan, seluruh kegiatan yang berkaitan dengan permasalahan utama dapat dijadikan sebagai “penguat” permasalahan.

Proses mendengarkan obrolan lewat handphone melalui penyadapan KPK adalah hal baru yang dahulu sempat dilakukan. Potongan-potongan pembicaraan Antasari Azhar (Mantan Ketua KPK) pada kasus pembunuhan juga ikut diperdengarkan, padahal didalamnya banyak terdapat kata-kata yang kurang penting atau tidak etis untuk diperdengarkan secara bersama-sama. Kini yang terbaru dalam kasus rapat century, diperdengarkan suasana rapat pejabat Bank Indonesia yang mengahasilkan keputusan untuk permasalahan bank dan penyalamatan bank yang akan gagal. Dan hasilnya sama saja, kesimpulan sementara sempat tertunda, banyak anggota pansus yang pergi meninggalkan ruangan sidang.

Proses sadap menyadap sepertinya menjadi makanan wajib untuk memberantas ketidak benaran. Mengintai menggunkan orang khusus dan mengamati seluruh gerak-gerik setiap orang yang telah dicurgai. Kamera pengintai atau alat perekam menjadi alat wajib yang harus ada didekat rapat pengambilan keputusan masyarakat. Hal ini sepertinya menunjukkan kurangnya kepercayaan terhadap seseorang. Inilah efek yang dapat menganggu yaitu timbulnya pikiran negatif setiap saat. Skeptis melihat potensi yang akhirnya menjadi masalah.

Permasalahan kecil akhirnya menjadi sesuatu yang besar dan amat berpengaruh. Bilang “ya” saja sudah menimbulkan kontroversi. Menyebutkan orang-orang penting saja menimbulkan polemik yang macam-macam. Setiap orang melontarkan bahan canda tawa dan akhirnya menjadi permasalahan. Menjaga tiap perkataan memang penting, bukan berarti hati-hati tetapi mengatakan sesuai jalur yang sudah ada.

Menata masalah

Coba kita lihat bersama-sama, apa yang menyebabkan permasalahan ini menjadi semakin menjadi runyam. Akhirnya memberikan peluang kepada hal-hal kecil untuk dipermasalahkan? Sikap skeptis yang berlebihan, kepentingan yang mengacaukan, dan tidak mempedulikan sekitar.

Membuka semua yang kecil termasuk di dalamnya sikap skeptis yang berlebihan. Pernah suatu saat rapat, anggota pansus “ngotot” untuk mencocokkan tanda tangan hingga narasumber memberikan penjelasan -Pada kasus sidang Century, penulis lebih suka menyebut “terdakwa” karena perlakuan yang dilakukan tidak layak seperti narasumber-. Skeptis yang berlebihan ini akhirnya makin membuat waktu persidangan semakin terulur dan kesimpulan tampak sumir. Semua sepakat jika sebagai seseorang dianjurkan untuk kritis namun sikap kritis harus ditunjukkan dengan pengetahuan yang mumpuni. Ilmu yang tidak cukup terkadang membuat orang banyak memberikan keluhan dan protes tanpa mengerti permasalahannya. Ilmu dan aksi perlu diselaraskan. Berilmu dan beraksi adalah dua kegiatan yang berjalan seimbang dan akhirnya memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

Sebuah kepentingan dapat mempengaruhi suatu sistem. Berbagai macam kepentingan dapat mengubah sistem yang ada. Begitu pula yang tercermin dalam setiap permasalahan yang akan diselesaikan. Hal yang tak perlu terjadi adalah praktek kepentingan yang menguap masuk dalam setiap sidang. Bukannya skeptis namun terlihat betul adanya kepentingan dalam tiap agenda persidangan. Jika tidak ada kepentingan mengapa setiap rapat ditemukan permasalahan yang berlipat ganda padahal kita semua yakin suatu penyakit disebabkan oleh sesuatu hal yang membuatnya menjadi sakit. Begitu juga tiap kasus yang ada, diputar-putar hingga semua kebingungan mencari biang kerusakan yang terjadi.

Jika memaknai kepentingan, penulis teringat saat proses pembedahan sapi fistulasi yang dilakukan oleh dokter hewan. Dokter hewan satu menginnginkan seperti ini dan dokter hewan yang satu lagi menginginkan sepertinya ini. Akhirnya dalam suasana bedah tersebut tejadi keributan antara dua dokter yang saling memiliki kepentingan. Tidak ada yang mau mengalah terlebih dahulu untuk sejenak meninggalkan kepentingannya dan peduli terhadap kepentingan umat. Ini mengakibatkan bleeding pada sapi dan waktu yang diperlukan menjadi lebih panjang.

Sama halnya dengan sidang century tersebut, kepentingan-kepentingan kecil menjadi sebuah permasalahan besar. Ini berdampak pada waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Diperlukan dokter yang cakap untuk mendiagnosis suatu penyakit hingga diketahui akar-akarnya. Jangan sampai membuat tubuh yang berpenyakit menjadi lebih kacau lagi. Kalau dalam istilah kedokteran disebut malpraktek. Kepentingan pribadi segera ditutup dengan kepentingan umat yang membutuhkan penyelesai masalah yang tepat.

Tidak mempedulikan sekitar, inilah yang penulis sebut sebagai kebobrokan sikap. Sebagai seorang pengambil keputusan umat tentu harus memeliki sikap peduli sekitar. Tidak dibutakan oleh hal-hal hitam yang akhirnya menimbulkan penyakit berkepanjangan. Tidak lagi fokus dengan hal-hal yang ada. Konsentrasi hilang saat hati mengatakan berbeda. Tujuan menyimpang saat kehendak Allah dilupakan. Hati sudah dikuasai oleh egoisme dan amarah sehingga lingkungan sekitar tidak dipedulikan. Rumusan masalah ini lebih ditujukan kepada para pelaku kejahatan yang dibuatnya maupun yang mem-perkara-kan nya . Hanya gara-gara perilaku menyimpang mereka dapat memakan biaya 2,5 milyar. Padahal dengan biaya sekian dapat membiayai suatu kecamatan untuk mengembangkan kecamatannya. Ini yang disebut dengan tidak mempedulikan lingkungan sekitar. Semua menyatakan peduli tetapi kenyataannya perilaku mereka mengacaukan kepedulian yang seharusnya ada dalam diri tiap pengambil keputusan.

Kini saatnya kita memulai kembali perjuangan untuk menjadi lebih baik. Melihat segala potensi dengan baik tanpa mementingkan kepentingan sendiri. Mari kita pecahkan masalah yang ada dengan keimanan dan ketaqwaan yang kita miliki. Sepertinya setiap dari kita perlu memperhatikan hal-hal kecil agar tidak menjadi masalah besar. Menjaga setiap perkataan dan perilaku menjadi sesautu yang penting untuk dilakukan. Menjaga sikap dalam mengambil keputusan. Menjaga sikap dalam melihat masalah untuk tidak terlalu skeptis, tidak bermain kepentingan dan kembali mempedulikan sekitarnya. Hal-hal kecil tetaplah menjadi kecil, kita yang akhirnya mengecil dan melihat semua yang kecil menjadi besar.

*yogisidik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s