Kebo Masuk Kota, Etika Tidak Tertata*

Di daerah-daerah, kerbau atau kebo sangat berguna. Di Solo, keluarnya kebo-kebo bule di malam satu syuro sangat ditunggu. Kotoran dan keringatnya membawa berkah tersendiri. Di Sumatera Barat, kebo dapat diambil susunya untuk difernentasikan dan dijadiin sajian khusus bernama dadih. Dadih merupakan makanan yang cukup gizi dan bermanfaat bagi tubuh. Di Toraja, kebo digunakan dalam upacara adat dan dijadikan lambang kemakmuran sang punya hajat. Di Jakarta, kebo digunakan dalam aksi ketidak puasan rakyat terhadap kinerja pemerintahan. Peran kebo memang layak diperhitungkan. Padahal kebo termasuk hewan yang mampu diberi pakan yang berkualitas rendah. Tidak perlu ada perlakuan khusus untuk memelihara kebo.

Kreatifitas aksi kini makin menjadi-jadi. Semua barang yang dapat dijadikan simbol diikutsertakan dalam kesempatan aksi yang dilakukan. Baik berupa barang hidup maupun barang tidak bernyawa. Aksi teatrikal dan aksi bakar ban juga termasuk dalam adegan demonstrasi yang sering dilakukan.

Sedang hangat menjadi perbincangan adalah aksi kerbau atau kebo ditengah kota. Kebo digiring sendirian dan diikutkan dalam demo yang diadakan di tengah kota. Kebo yang biasa di sawah tampak kebingungan. Mungkin untuk sementara, peran membajak sawah sudah digantikan oleh traktor. Jadi kebo dibawa ke kota untuk demonstrasi. Aksi yang ditujukan untuk memprotes kinerja pemerintahan SBY ini memang menjadikan kebo sebagai simbol dan tokoh utama dalam berekspresi. Pada tubuh kebo bertuliskan “SiBuYa”, yang menurut pelaku aksi bukan menyimbolkan SBY namun simbol ketidak puasan atas kinerja. Sedangkan bagian belakang kebo juga ditempel foto SBY. Aksi ini pun mendapat protes dari pihak yang diprotes.

Tidak boleh kebo, hewan lain pun jadi. Baru-baru ini, kambing dan ayam pun ikut menjadi salah satu peserta demontrasi. Kali ini dengan konsep yang berbeda, kini terang-terangan muka kambing diganti atau diberi topeng wajah manusia. Dan ayam diberikan kepada KPK sebagai simbol untuk segera menyelesaikan permasalahan century.

Sebenarnya aksi menggunakan hewan bukanlah pertama kali yang terjadi. Pernah suatu saat, lembaga amal zakat di Indonesia beraksi menggunakan sapi dan kambing. Tetapi aksi yang digelorakan mengenai ajakan untuk berkorban. Bukannya menjadikan simbol untuk menuntut atau bahkan melecahkan makhluk Allah yang lain. Jelas jika aksi yang dilakukan berisi ajakan berqurban sehingga yang diangkut juga subjek yang nantinya akan menjadi kurban. Bahkan aksi ini sempat mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Mendapat teguran dari pihak yang diprotes karena terdapat masalah yang serius dalam aksi tersebut. Permasalahan aksi kebo masuk kota itu adalah masalah etika dalam berdemokrasi. Presiden menyayangkan di negeri demokrasai dan memiliki pancasila ini tidak memiliki etika dalam tiap tindakannya. Dalam bincang santai yang dilakukan salah satu stasiun televisi swasta, SBY merasa tersinggung dengan penyamaan dirinya dengan kebo. SBY merasa terharu dengan proses demokrasi yang ada di negeri ini.

Terkadang proses demokrasi ini perlu dianalisis lagi. Demokrasi menjadi pilihan yang baik namun perlu adanya kontrol hingga tidak terjadi liar dan kebablasan. Etika berdemokrasi tidak kembali sesuai dengan norma. Dikala pikiran menjadi panas dan keadaan semakin sempit, etika sepertinya memang tidak diperhitungkan. Indonesia perlu mengkaji banyak mengenai proses demokrasi.

Kini aksi membawa kebo memang tidak beretika jika konteks yang dibawa adalah penghinaan terhadap pemimpin negeri. Aksi tersebut bisa jadi berupa penghinaan kepada seseorang. Wajar jika presiden mengeluhkan itu dimuka umum pada sela-sela rapat kerja yang dilakukannya. Pemimpin sudah sampai naik pitam, tentu inilah bukan yang diharapkan. Jika pemimpin naik pitam dan rakyat naik pitam, kemudian api makin berkobar dan sulit untuk memadamkan.

Siapa yang Tidak Beretika?

Tetapi coba kita renungkan lagi permasalahan etika. Apa sebenarnya etika itu? Sesuatu bentuk sikap atau tingkah laku sesuai dengan norma dan kedaulatan yang ada di negeri atau tempat tersebut. Tidak beretika berarti dapat disebutkan sebagai suatu kegiatan yang melanggar norma. Jadi kalau kita cermati, siapa yang tidak beretika? Pejabat atau rakyat yang tidak beretika. Jika sama-sama tidak beretika berarti sudah tiada lagi norma yang digunakan.

Segala bentuk perilaku pejabat sudah seakan-akan terekam dalam memori masyarakat. Media makin menunjukkan bukti bahwa runtuhnya etika yang ada pada perilaku pejabat. Walau tidak semua pejabat namun tetap saja berdampak pada semua. Nila setitik rusak susu sebelanga.

Permasalahan dan keputusan-keputusan yang ada saat ini menunjukkan etika dalam melayani masyarakat tidak ada lagi. Bentuk permasalahan-permasalahan yang terjadi, mulai dari korupsi, skandal hingga pembunuhan, tentu sangat tidak menunjunjung nilai etika. Begitu pula saat dipersidangan, tidak dapat menjaga sikap dan perkataan. Rakyat membayar mahal itu semua seakan-akan hanya untuk menguji etika bersidang para pejabat. Kasus penjara bak hotel juga sangat menyakitkan. Disaat rakyat memaksakan untuk persamaan hak, pejabat yang tidak beretika justru makin tidak memiliki etika saat dimasukkan ke dalam sel. Mereka diberi pelayanan dan tempat khusus. Tempat nyaman dan diberi kebebasan untuk keluar masuk sel. Benar-benar mempermainkan hukum yang ada di negeri ini. Upeti untuk kepala-kepala daerah sekedar pergi ke pernikahan dan jalan-jalan sang kepala daerah. Apakah itu yang disebut ber-etika?

Apakah aksi kebo ini juga ingin menunjukkan bahwa kebo itu tidak berakhlak. Sehingga dibawalah kebo sebagai simbol. Apakah ini yang disebut dengan permasalahan akhlak atau krisis akhlak. Akhlak yang baik tentu tidak akan menghasilkan etika yang buruk. Konsep akhlak yang baik memang tampaknya sudah dibuang dan dilupakan. Jika ingin merubah negeri tentu rubah kembali akhlak-akhlak manusia yang mengambil keputusan dan umat yang di negeri tersebut. Setelah akhlak perlahan-lahan dirapikan kemudian konsep perilaku dapat diperbaiki sesuai dengan norma yang ada.

Aksi kebo ini adalah bentuk kritik sosial yang menuntut adanya ketegasan komunikasi politik para pemimpin. Namun kondisi tidak terkendali tersebut tentu jika semua saling menjaga sikap dan memberikan yang terbaik untuk semua. Aksi ini dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi untuk kita semua. Agar makin menunjunjung tinggi etika dalam tingkah laku. Etika yang baik tentu dilandasi akhlak yang mulia. Selesaikan masalah hati dan keniatan dari masing-masing diri kita. Si Kebo masuk kota ingin menunjukkan tidak perlu mencontoh kebo dalam berperilaku. Demo kebo itu memberikan pesan, menata etika sangatlah penting. Mungkin aksi kebo ini ingin mengingatkan kepada masyarakat Indonesia khususnya warga metropolit untuk kembali ke desa. Membangun daerah menjadi petani dan peternak.

*yogisidik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s