Padamkan Api yang Membakar Hati*

from kaskus.com
from kaskus.com

Dari pagi hingga petang, siaran televisi hanya berisi amarah yang membahana. Opini masyarakat dari jaringan telepon diungkapkan dengan nada gusar dan terlihat sangat marah. Sejak pagi berita-berita yang ditampilkan berisi tentang amarah massa terhadap perilaku pemerintahnya. Belum lagi terlihat juga amarah pemerintah terhadap sesamanya. Seakan menjadi agenda wajib dalam proses setiap kegiatan.

Itu baru berita, jika berita telah usai berganti sinetron dan reality show menghiasi magic box tiap rumah di seluruh Indonesia. Adegan-adegan yang diperlihatkan hanya berisi amarah dan praduga yang dibuat-buat. Seolah marah adalah sesuatu yang pantas untuk diperlihatkan kepada khalayak umum. Memang marah adalah sebuah keadaan yang timbul karena sesuatu yang mempengaruhi kondisi psikologis. Tetapi terlihat jelas, saat adegan marah, tim produksi atau kreatif tampak melebih-lebihkan dengan latar belakang musik ataupun raut muka yang sangat mencerminkan kepalsuan. Semua menjadi pertontonan yang memiliki nilai jual, akhirnya masyarakat melihatnya sebagai hal yang wajar dan pantas untuk dilakukan.

Tidak mudah untuk menahan marah yang akan diluapkan. Apalagi kejadian yang membuat marah itu makin tidak terkontrol dan mempengaruhi keadaan psikologis kita. Kini pilihan kita adalah sabar atau tetap marah sekenanya. Entah apa yang dihasilkan sesudahnya. Alangkah banyaknya godaan yang membuat orang menjadi marah dan tidak peduli lingkungan sekitar. Tetapi alangkah banyaknya juga pertolongan Allah untuk hamba-hambanya yang senantiasa sabar.

Kenapa kemudian diri kita menjadi marah? Padahal dengan marah tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan memperkeruh masalah. Teman yang semula sangat dekat menjadi jauh-jauhan saat dilontarkan amarah diri. Pembeli akhirnya kabur saat penjual marah-marah saat dagangnya tidak laku-laku. Kesalahan kecil akhirnya tidak termaafkan karena amarah menyisakan dendam dalam hati. Segala keputusan yang diambil dalam keadaan marah dan emosional tentu tidak akan mengahasilkan keputusan yang baik. Saat marah, kondisi psikologis kita berubah. Semua itu dipengaruhi oleh kinerja jantung pada saat marah juga ikut berubah. Jantung lebih cepat berdegup pada saat kita marah. Tentu hal itu menganggu kesehatan kita juga.

Marah Vs Kesehatan
Berbicara mengenai kesehatan, sebenarnya marah tidaklah baik bagi kesehatan tubuh. Dalam buku “Sehat Berpahala” karya Dr.Egha Zainur menyatakan, membiasakan dengan sifat marah berarti bersiap dengan tingginya kolesterol dan tekanan darah dalam jangka waktu lama. Resiko stroke dan gangguan jantung mengancam akibat peningkatan tekanan darah yang otomatis terjadi pada orang yang marah.

Masih dalam buku kesehatan tersebut. Para peneliti mempercayai bahwa pelepasan hormon stress, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Profesor Edward Suarez dari Duke University Medical Centre di North Carolina menyatakan, protein interleukin-6 (IL-6) lebih tinggi pada orang yang sedang marah ataupun depresi dibandingkan orang normal. Tingginya IL-6 dalam jangkan lama akan memacu proses atherosclerosis, yaitu kondisi ketika pembuluh darah menjadi kaku dan kehilangan elastisitasnya. Kondisi ini bisa dibayangkan seperti sebuah selang air tua yang tidak lentur lagi. Selain itu akan mudah robek jika terkena aliran air dalam tekanan tinggi. Logika yang serupa terjadi jika pembuluh darah yang kaku dialiri oleh tekanan darah yang tinggi. Tentu akan robek bagian-bagian yang dilaluinya.

Sifat marah benar-benar memberikan dampak sistemik bagi tubuh. Padahal hanya beberapa menit saja kita marah tetapi resiko yang ditimbulkan dapat bertahan lama bahkan saat umur ini menginjak tua. Otak, jantung, dan darah memainkan perannya dalam aktifitas yang kita lakukan tersebut. Sungguh terlalu perilaku setan, memaksakan kehendaknya agar manusia mengikuti amarahnya dan bebannya ditanggung oleh manusia yang melakukannya. Ya Rabbi, lindungilah kita semua dari amarah ini.

Jadi, bagaimana kita menahan amarah. Islam punya solusi konkrit yang sangat hebat. Banyak peneliti yang meng-iya-kan program ini. Menarik napas dalam-dalam, tenangkan diri dan atur posisi seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah.

“Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah” (H.r. asy-Syaikhany).

Dari Abu Hurairah r.a., ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, “Berilah aku wasiat.” Rasulullah bersabda, “jangan marah!” Dia bertanya berulang-ulang dan tetap dijawab, “jangan marah!” (H.r. Bukhari).

Nah, jadi masih mau marah-marah? Meningkatkan kesabaran memang jauh lebih penting. Dalam buku “Sehat Berpahala” dianjurkan untuk meningkatkan kesabaran dengan menanamkan keikhlasan dalam niat, selalu mensucikan hati, mengupayakan kekhusyukan, juga menjadi hamba yang senantiasa bersyukur akan memudahkan kesabaran itu terpatri dalam diri.

“Barangsiapa yang selalu melatih dirinya untuk bersabar, maka Allah akan membuatnya menjadi penyabar” (H.r. Bukhari).

Allah punya pesan khusus untuk mukmin yang senantiasa mencoba dirinya untuk bersabar.

“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia” (Q.s. Asy-syura [42]: 43).

*yogisidik
**Penulis menuliskan artikel ini dalam keadaan hampir marah.
Jadi daripada marah-marah mendingan berbagai ilmu lewat tulisan.
Tertundalah marah. Saling mengingatkan bila marah akan membakar hati.

4 thoughts on “Padamkan Api yang Membakar Hati*”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s