Saat Hujan Turun

www.webmastergrade.com
Best-Rain-Phpt from http://www.webmastergrade.com

Salah satu kejadian yang saya sukai adalah menikmati turunnya hujan. Bukan hujan hujanan tapi menikmatinya dari dalam rumah, kalau ingin saja pergi keluar untuk hujan-hujanan, hehehe… Kejadian yang luar biasa ini sering disebut-sebut dalam Al Qur’an sebagai bukti Kekuasaan dan Kasih Sayang Allah Swt. Hujan merupakan anugrah indah yang diberikan Allah SWT untuk tiap makhluknya. Allah bertindak adil terhadap segala macam penciptanNya. Terkadang kita sebagai manusia sering mengeluh dengan turunnya hujan. Saya juga sering mengeluh saat hujan turun, apalagi waktu mengendarai motor ataupun sedang ada kegiatan di luar gedung, hehehe… Turunnya hujan patut disyukuri. Hujan bukanlah penghalang dan menjadi bahan cemooh. Allah Swt. pun memerintahkan makhluk-Nya untuk memperhatikan salah satu kekuasaannya itu.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?” (As-Sajdah (32) :27)

Pembentukan hujan terjadi secara tiga tahap. Pertama, air sebagai bahan baku naik ke udara. Kedua, gumpalan awan terbentuk. Ketiga, turunnya hujan. Tiap-tiap tahapan itu telah dituliskan dalam Al-Qur’an.

“Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (Ar-rum (30):48).

Gelembung-gelembung udara yang jumlah tidak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di laut pecah terus menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas atmosfir. Partikel-partikel ini yang disebut aerosol, membentuk awan dan mengumpulkan uap air disekililingnya yang naik lagi dari laut sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut perangkap air.

Setiap tahun 3-4 miliar liter air dibawa dari lautan menuju daratan untuk dapat dinikmati dan dimanfaatkan manusia. Wah..sebanyak itu yang dialirkan, kalau diuangkan bisa beli kerupuk segunung, hehehe…

Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan. Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan, dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Ia menurunkan (dari waktu ke waktu) hujan dari langit sesuai dengan ukuran, dan Kami hidupkan dengan itu daerah yang sudah mati. Demikian juga kamu akan dibangkitkan (dari kematian)” (Az-Zukhruf (43):11)

Hal-hal kecil seperti ukuran juga berada dalam Al Qur’an. Betapa luar biasanya kasih sayang yang diberikan Allah untuk semua makhluknya. Allah Swt. memberikan hujan sesuai kadar atau ukuran dan akhirnya dapat dinikmati dan bermanfaat. Ketinggian minimal awan mendung adalah 1.200 meter. Bila jatuh dari ketinggian ini, suatu obyek yang bobot dan ukurannya sama dengan air hujan akan semakin cepat dan jatuh ke tanah dengan kecepatan 558 km/jam. Nah loh, kalo jatuh dengan kecepatan segitu semua pasti hancur, nggak cuma kepala kita yang hancur tapi rumah juga bakal rusak.

Namun yang dapat kita perhatikan adalah hujan dengan alunan air yang indah. Tepat sesuai proporsi yang diharapkan. Memang seperti itulah kenyataan yang saat ini terjadi.  Dari ketinggian berapa pun, kecepatan air hujan hanya 8-10 km/jam saat mulai menghantam tanah.  Air hujan jatuh kebumi dengan kecepatan yang rendah, karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang mampu meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih rendah.

Hujan banyak macamnya, ada hujan yang turun tanpa berbentuk lonjong tetapi hanya uap air yaitu berupa embun yang kita nikmatin tiap pagi. Kata dokter, embun pagi bagus buat tulang loh, makanya bangun subuh dianjurkan bagi orang-orang yang ingin tulangnya sehat. Ada lagi hujan yang terkena suhu rendah sehingga pada saat jatuh berbentuk es atau bisa disebut dengan salju. Terkahir hujan yang biasa kita nikmatin, hujan rintik-rintik, gerimis, deras atau nama-nama lainnya sesuai tingkatannya, hehehe…

Tapi kenapa air hujan nggak asin ya? Padahal tuh air dari laut. Air hujan punya rasa tawar. “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur” (Al Waaqi’ah (56): 68-70).

Sudah jelas mengenai turunnya hujan, sekarang saatnya untuk dinikmati salah satu kebesaran Allah Swt. Tumbuh-tumbuhan dan hewan saja bergembira dengan datangnya hujan, mengapa manusia yang makhluk mulia tidak menunjukkan rasa bersyukur? Kodok saja bernyanyi kalau ada hujan, jangan kalah sama kodok, hehehe… Nah, yang paling penting lagi menikmatinya jangan kebablasan hingga menjadikan hujan sebagai tanda ataupun hal-hal apapun yang tidak ada hubungannya karena muaranya adalah musyrik. Hujan ya tetap hujan, Hujan ada nikmat dan rezeki yang senantiasa disyukuri kehadirannya. Jangan salahkan hujan kalo ada banjir atau bencana karena segala kesalahan tentu datangnya dari manusia, perlu instropeksi dan melakukan kebaikan dalam langkah kehidupan. yogi sidik.

4 thoughts on “Saat Hujan Turun”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s