Penghentian Ekspor Sapi dari Australia, Siapa Takut!*

picture from bumn.go.id
picture from bumn.go.id

Pemerintah Australia melakukan penghentian penjualan sapi bakalan ke Indonesia sejak 8 Juni 2011 hingga enam bulan mendatang. Kebijakan tersebut timbul sejak mencuatnya hasil investigasi dua organisasi dari Australia ke 11 rumah pemotongan hewan (RPH) di Indonesia bulan Maret 2011 dan ditayangkan di ABC Four Corners tanggal 30 Mei 2011. Tidak hanya laporan media, pihak pemerintahan Australia tentu melakukan penghentian atas dasar pertimbangan politik dan jajak pendapat yang dilakukan kalangan pemerintah maupun rakyat setempat. Setidaknya 250.000 warga di Australia menandatangani surat pelarangan ekspor sapi ke Indonesia.

            Pihak Australia menganggap pemotongan ternak sapi di 11 rumah potong hewan yang dilakukan kunjungan tidak mengikuti aturan kesejahteraann hewan. Lima prinsip (free freedom) yang diadopsi dunia Internasional pada 1979 meliputi (1) Bebas dari rasa haus dan lapar; (2) Bebas dari rasa menderita; (3) Bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; (4) Bebas mengekspresikan perilaku normal; dan (5) Bebas dari rasa takut dan tertekan.

            Dalam gambar yang diperlihatkan oleh ABC adalah dalam satu bagian dipertunjukkan pisau yang digunakan untuk memotong leher sapi tidak memadai karena terlampau kecil. Tukang jagal juga memukul kepala sapi dengan tali dan sapi yang sudah terbaring kesakitan diguyur dengan air (Kompas, 18/6).

Pemotongan Ternak di Indonesia

            Sebagian besar pemotongan ternak di Indonesia menggunakan teknik pemotongan sesuai kaidah agama Islam. Teknik pemotongan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pemotongan secara langsung dapat dilakukan apablia ternak dinyatakan sehat dan langsung disembelih pada bagian leher dengan memotong arteri karotis, vena jugularis dan esofagus. Pemotongan tidak langsung, ternak dilakukan pemotongan saat ternak sudah dipingsangkan (Soeparno, 2005). Di Australia pemingsanan sapi dilakukan dengan menggunakan pistol yang memiliki daya listrik tinggi yang ditembakkan di bagian kepala. Dilakukan pemingsanan adalah untuk memudahkan pelaksanaan penyembelihan, ternak tidak tersiksa, dan agar kualitas kulit dan karkas lebih baik (Soeparno, 2005).

            Di rumah potong hewan yang ada di Indonesia biasanya melakukan pemingsanan dengan cara mengikat bagian kaki dan ekor sapi. Ternak yang akan dipotong diistirahatkan dan disiram dengan air. Penyiraman tubuh ternak dengan air dimaksudkan agar ternak lebih bersih dan agar terjadi kontraksi perifer (faso kontraksi), sehingga darah di bagian tepi tubuh menuju bagian dalam tubuh, dan pada waktu penyembelihan darah dapat keluar sebanyak mungkin serta memudahkan proses pengulitan. Ternak disembelih dengan menghadap kiblat.

Indonesia Tujuan Utama Ekspor

            Indonesia adalah negara yang menjadi pangsa terbesar sapi hidup Australia. Enam puluh persen dari total ekspor Australia ditujukan ke Indonesia. Berdasarkan data Meat & Livestock Australia, hingga bulan juni ini total ekspor Australia mencapai 873.573 ekor senilai sekitar 744 juta dollar AS.

            Kebijakan penghentian Impor Sapi dari Australia tidak membuat pemerintah Indonesia kebingungan mencukupi kebutuhan daging sapi di Indonesia. Kebutuhan daging sapi impor secara total mencapai 30.000-40.000 ton. Australia memasok dalam bentuk sapi hidup sekitar 20%, sedangkan dalam bentuk daging beku 10-15%. Australia memperoleh nilai ekspor ke Indonesia sekitar 350 juta dollar Australia. Selebihnya dilakukan Impor dari AS dan Selandia Baru. Pemerintah tetap mencari negara alternatif seperti Meksiko.

            Menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha pemerintah menganggap pasokan daging masih aman. Berdasarkan data kementerian pertanian, sapi hidup masih tersedia 150.000 ekor dan 39.000 kilogram daging beku di dalam negeri. Data tersebut dengan mempertimbangkan volume rata-rata pemotingan sapi sebanyak 1.7 juta ekor per tahun.

            Dampak saat ini yang terjadi adalah peningkatan harga jual pedet ataupun sapi pejantan menjadi naik 500.000 hingga 1 juta rupiah. Hal yang perlu diwaspadai adalah dengan naiknya harga jual sapi, rumah potong hewan akan mencari alternatif yaitu dengan sapi betina produktif yang harganya lebih murah. Tren peningkatan kebutuhan daging di Indonesia kisaran 7-10 persen tiap tahun. Total populasi sapi di Indonesia dari 71490 desa yang telah disurvey terdapat 11.926.677 ekor sapi potong, sapi perah 454588 ekor, dan kerbau 1.054.072 ekor. Dari total 77.548 desa yang ada di Indonesia (BPS, 2011).

            Secara jangka panjang permasalahan ini dapat dijadikan sebuah peluang emas bagi Indonesia untuk menata kembali konsep menyongsong swasembada daging 2014. Indonesia dapat melakukan pembenahan terhadap sistem penyediaan daging sapi di Indonesia.

            Hal yang menjadi fokus adalah penyediaan bibit sapi lokal, peningkatan kualitas manajemen pemeliharaan sapi lokal, perapian kualitas rumah potong hewan hingga daging sapi yang dihasilkan, penghentian pemotongan sapi betina produktif, pemantapan sensus sapi lokal dan pencapaian produksi dalam negeri.

Dari Berbagai Sumber:

Trobos. Kompas. Diktat Ilmu Daging.

*Yogi Sidik

One thought on “Penghentian Ekspor Sapi dari Australia, Siapa Takut!*”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s