Notes From Thai #3

Mencintai Pemimpin, Mencintai Negara

            Hari ini begitu spesial. Selepas pulang kandang, ayunan sepeda berhenti. Langkah tiap orang melemah dan kemudian terdiam. Kepala mereka tertunduk kebawah. Seakan tiba raja dari langit. Semua aktivitas berhenti, hanya beberapa kendaraan asing yang melintas. Rombongan mahasiswa yang hari ini mengikuti kegiatan juga terdiam sejenak. Saya sebagai orang asing pun demikian, berhenti dan mengambil gambar kegiatan yang tidak pernah saya temui sebelumnya.

            Pukul 18.00 semua aktivitas berhenti. Hanya terdiam dan menunduk mendengarkan lagu yang diputar melalui pengeras suara. Hanya mendengarkan lagu semua orang berhenti? Begitu spesialnya lagu ini hingga membuat hening suasana. Semua tampak khidmat kecuali orang-orang yang tidak mengerti termasuk saya. Yupz, lagu itu adalah lagu kebangsaan Thailand. Lagu yang menjadi sangat wajib didengarkan oleh seluruh penduduk yang mendatangi Thailand dan mendengarkannya. Kira-kira seperti ini suasana pukul 18.00 saat lagu nasional Thailand diputar.

Suasana saat diputar lagu kebangsaan di Universitas Maejo
Suasana saat diputar lagu kebangsaan di Universitas Maejo

 Lagu Nasional

            Phleng Sansoen Phra Barami adalah nama lagu kebangsaan Thailand ini. Lagu ini diputar pada awal program siaran radio dan televisi. Musiknya didasarkan pada sebuah lagu Raja Thailand sehingga terkedang orang-orang menyebutnya lagu Kerajaan. Aransemen lagu diciptakan oleh seorang komposer Rusia bernama Pyotr Schrovsky.

            Pada tahun 1913 Pangeran Narisaranuvadtivongs menciptakan lirik ini. Kemudian Raja Rama VI merevisi lirik tersebut. Entah alasan apa lirik tersebut direvisi, heheh. Pastinya lagu kerajaan ini begitu spesial sehingga disetiap kesempataan istimewa diputar lagu ini.

            Lagu ini juga diputar sebelum film di bioskop mulai. Sepertinya orang-orang berdiri pada saat diputar lagu kebangsaannya (Belum dibuktikan sih, Semoga ada kesempatan untuk pergi ke Bioskop, heheh). Kabarnya, di tahun 2008, seorang yang akan menontot film di salah satu bioskop di Bangkok harus menerima hukuman berat. Orang yang sial itu terkena tuduhan pidana penghinaan kepada Raja karena tidak berdiri pada saat dimainkannya lagu Kerajaan.

            Sama halnya di Universitas Maejo Chiang Mai. Sebelum diputar radio kampus, dimainkan lagu Kebangsaan. Alhasil lagu Kebangsaan terdengar keseluruh penjuru kampus. Bagi semua yang kebetulan mendengarkan lagu tersebut harus berhenti dan khidmat mendengarkan lagunya.

 

Taat Pada Pemimpin

            Masyarkat di Thailand sangat hormat dan mencintai rajanya. Sehingga masyarakat meletakkan gambar sang Raja di seluruh tempat terbaik. Begitu pula saat diperdengarkan lagu kebangsaan. Semua berdiri, khidmat menikmati syair-syair yang dilantukan. Seperti habis menang Sea Games atau sebelum pertandingan sepak bola, heheh.

            Sikap yang ditunjukkan oleh masyarakat Thailand adalah sikap hormat dan taat kepada pemimpinnya. Tentu sikap nasionalisme turut membara di dalam dada. Berjuang untuk kebaikan negara.

            Jarang kita melihat perilaku hormat tersebut di Indonesia. Mungkin hanya saat upacara, seminar ataupun kegiatan kenegaraan lainnya. Tidak diperdengarkan saat berjalan kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemui orang yang tidak hafal lagu kebangsaan Indonesia dan tidak mengerti artinya. Bahkan ada yang mempermainkan lagu kebangsaan tersebut, diubahnya sendiri sesuai selera (Gimana kalo itu di Thailand, bakal di tendang tuh orang dari negaranya kali ya..heheh).

            Semakin banyak orang Indonesia yang mencintai pemimpin dan negaranya tentu akan menciptakan kedamaian. Pemimpin yang dicintai juga dapat dilihat dari perilaku rakyatnya dan tanggapan terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Berbagai macam kepentingan pribadi tidak akan membawa kebaikan pada kebijakan yang ada.

            “Wahai orang-orang yang beriman!, Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa, 5: 59).

            Rasullah juga selalu menegaskan pada umatnya untuk selalu taat pada pemimpin. Sesuai dengan batas-batas syariat Islam. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulluah Saw. bersabda: “Seorang muslim wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) baik dalam hal yang disukainya maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat. Apabila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat, maka ia tidak wajib mendengar dan taat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

            Dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang membenci sesuatu dari tindakan penguasanya, hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya orang yang meninggalkan penguasanya walupun hanya sejengkal, maka ia mati seperti mati di jaman jahiliyah.” (Imam Nawawi, Riyâdl ash-Shâlihîn).

            Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang taat kepada penguasa maka, ia benar-benar telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada penguasa maka ia benar-benar telah durhaka kepadaku.” [HR. Bukhari dan Muslim].

            Tuh kan, Rasullah juga sudah mengingatkan kita untuk menghormati pemimpin kita. Tidak hanya sekedar lagu tetapi lebih pada sesuatu tentang negara. Makna dipilihnya pemimpin dan kemampuannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Setia dalam setiap kesempatan. Setia bukan berarti terdiam dan membiarkan kesalahan terjadi. Menjadi pengingat dan pemberi saran juga sikap setiap pada pemimpin dan negara.

            Tidak hanya sekedar simbol tapi minim pemaknaan tetapi seluruh lini kehidupan negara. Menghayati dan mengamalkan tujuan terbentuknya negara. Utamanya adalah menciptakan kesejahteraan dan kemandirian di negara sendiri. Selamat menikmati tiap langkah menjadi orang Indonesia. Yogi Sidik.

 Sumber:
Al-Qur’an.
Wikipedia.

One thought on “Notes From Thai #3”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s