Memilih Jalan Terbaik, Memilih ISMAPETI (1)

Awal menjadi ketua ISMAPETI. Dalam hati saya mengatakan, apakah saya bisa? Semasa menjadi Gubernur BEM –kini telah berganti menjadi Ketua BEM, penggunaan kata Gubernur dirasa terlalu berlebihan, masih banyak yang belum saya tahu mengenai ilmu peternakan terlebih lagi gerakan-gerakan kampus. Saya hanya menjadikan BEM sebagai media belajar. Maklum, semenjak SMP jarang ikut kegiatan eksekutif sekolah. Pernah sewaktu SMA menjadi bagian dari OSIS, tapi pada bagian yang tidak begitu diperhatikan, bahkan tidak ada kerjaannya –terkahir kali yang saya ingat adalah menjadi panitia dalam pentas seni sekolah. Saat kelas 1 SMA –sekarang kelas 10, sempat mendaftar OSIS dan hasilnya ditolak. Menurut panitia pemilihan OSIS, saya memiliki postur tubuh dibawah standar, baris berbaris yang payah,dan takut untuk berbicara di depan. Paling tidak masuk akal adalah karena saya tidak begitu terkenal di Sekolah. Itu yang membuat saya tidak diterima menjadi bagian dari OSIS.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan memberi  saya ruang yang leluasa untuk belajar menjadi benar. Perlahan dari bawah saya mulai belajar. Advokasi tempat pertama dan selanjutnya menjadi Gubernur BEM di tahun ketiga. Seperti biasanya, awalnya ragu untuk maju. Tetapi inilah Fakultas Peternakan, tekanan terasa menjadi ringan karena banyaknya teman. Semangat dan senyum hangat selalu menjadi sahabat. Tidak lagi takut dengan bentuk diri karena sekarang yang penting percaya diri. Maju adalah pilihan nomor satu. Kemudian segera dijalankan. Dari dulu saya masih khawatir untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan manusia. Sulit ditangani karena perlu hati-hati. Salah melangkah bukan senyum yang merekah tetapi mereka akan menjauh. Menjadi mahasiswa belum berpikir keuntungan besar. Belajar menjadi benar adalah akar yang harus  ditancapkan. Pada suatu saatnya nanti. Kejujuran menjadi prioritas utama peniliaian diri.

Selesai di BEM FAPET –panggilan untuk BEM FAPET UGM, saya kemudian berpikir untuk merealisasikan tulisan-tulisan terdahulu. Akhirnya suatu pagi kami membuat barisan sendiri. Berkumpul untuk menyimpulkan Musyawarah Nasional. UGM maju lagi atau pergi? Begitu yang dinyatakan salah satu punggawa perang. Maju lagi siapa yang akan unjuk gigi? Jika pergi apakah akan mencalonkan diri dalam pengurus besar. Usai berpikir, akhirnya saya menyatakan bersedia untuk maju lagi. Persidangan mulai. Nama-nama calon ketua umum diumumkan. Akhirnya Musyawarah yang menjadi penentu, hanya ada satu bakal calon yang dicalonkan yaitu saya dari wilayah III. Kesepakatan itu yang membuat kursi ketua umum PB ISMAPETI kembali dipertahankan. Saatnya menunjukkan identitas ISMAPETI. Membuat misi-misi strategis. Dan kapan saya akan lulus. Kata-kata itu dari tadi mondar-mandir di kepala saya. Saya harus punya tujuan baru.

Menunda kelulusan adalah sesuatu yang penting. Sangat penting. Akhirnya saya memilih untuk berani bersikap. Berani mengundurkan kelulusan saya dan siap dengan segala konsekuensi yang akan saya terima. Akademik harus tetap ciamik. Organisasi siap jadi partisipasi utama dalam menyusun performa diri. Sekotak cita-cita yang belum sempat tercapai diberikan oleh Ketua Umum terdahulu, Ismatullah Salim. Selanjunya mas Imam –biasa saya memanggilnya, inilah yang akan menjadi penasehat saya selama menjadi orang nomor satu di ISMAPETI. Lanjutkan perjuangan ini, tegakkan kebenaran dan pastikan kamu punya sasaran. Saya tuliskan kembali dalam catatan. Berani dalam kegelisahan bukan jamannya. Sekarang siap untuk bertindak.

Satu Persatu tugas diinventaris. Satu persatu misi dibuat jadwal tepatnya. Banyak hal yang harus saya baca dan kuasai khususnya peternakan. Kamar kos yang semula putih bersih berubah menjadi sesak oleh deretan peta. Peta Indonesia, saya letakkan tepat disamping tempat tidur agar selalu siap untuk bekerja untuk Indonesia. Peta Dunia juga saya letakkan tepat di bagian samping atas tempat tidur agar siap melaksanakan misi-misi internasional. Majalah-majalah saya inventaris kembali. Koran-koran yang bercerita mengenai peternakan digunting dan dikliping. Diberi warna tebal pada data-data pasti untuk melakukan kajian-kajian peternakan.

Begitu indah diawalnya. Memang begitu kesan pertama. Ada rasa memiliki yang berlebihan dan rasa untuk segera menyelesaikan tugas. Tetapi lama-kelamaan bunga akan layu juga. Perlu keseriusan untuk memelihara cita rasa dalam pekerjaan. Pahami dan nikmati menjadi kunci. Memang begitu nikmat dipermulaan tugas. Kekhawatiran muncul di pertengahan. Jadwal ragu-ragu dibuat. Mau lanjut seperti ini atau memilih jalan aman? Saya yang menentukan. Inilah Media Belajar Terbaik. Inilah jalan terbaik, memilih ISMAPETI. Yogi Sidik.

4 thoughts on “Memilih Jalan Terbaik, Memilih ISMAPETI (1)”

  1. Luar biasa! Inspiratif!
    Seringkali tidak ada pilihan yang mudah untuk dipilih.. berbagai alternatif datang dengan segala kelebihan, dan pengorbanan sebagai konsekuensi atasnya. Di sana lah kita teruji untuk semakin matang dalam mengambil pilihan dan dalam menata hidup. Terima kasih sudah share kang Yogi. Semoga kami bisa banyak belajar disana. Izin share di tempat lain yak. ^_^

    salam,
    nasikun
    (http://ahmadnasikun.wordpress.com/)

  2. “Menunda kelulusan adalah sesuatu yang penting. Sangat penting. Akhirnya saya memilih untuk berani bersikap. Berani mengundurkan kelulusan saya dan siap dengan segala konsekuensi yang akan saya terima. Akademik harus tetap ciamik. Organisasi siap jadi partisipasi utama dalam menyusun performa diri.”

    jempol!!!

  3. Salah satu tulisan yang menginspirasi😀

    Yang saya heran justru malah panitia OSISnya…mereka sebenarnya mencari orang-orang yang mau mengurus OSIS atau foto model? Kok harus berpostur badan yang bagus dan,,,terkenal?hehehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s