Belajar Sederhana dan Bersahaja dari Keluarga Pol PP

Setelah berjalan-jalan melihat peternakan sapi potong dan pantai tanah merah di Desa Belilik. Saya berkesempatan untuk mampir sejenak di rumah Bang Saleh. Salah satu Polisi Pamong Praja di kantor Kecamatan Namang Bangka Tengah. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 15.30 WIB. Adzan ashar dikumandangkan tepat saat saya menuju rumah Bang Saleh.

Rumah Bang Saleh tidak besar. Rumah khas masyarakat Bangka. Bagian bawah berupa semen dan diatasnya dikelilingi papan-papan kayu. Beberapa sudah ada yang berlubang sehingga angin dan sinar matahari masuk sela-sela. Lantainya tidak tanah , sudah dilapisi semen dan sangat licin. Keluarga Bang Saleh terlihat sangat menjaga kebersihan. Walau sederhana, rumahnya tampak sehat, bersih dan nyaman untuk ditinggali. Tidak banyak perabotan di sekelilingnya, hanya kursi sofa sederhana dan satu buah televisi yang menghiasi ruang tamu.

Kegiatan keluarga banyak terpusat di belakang alias dapur. Di bagian rumah tampak ruangan sangat besar. Tempat sholat disiapkan khusus untuk berjamaah bersama keluarga. Meja makan diletakkan berjajar, menandadakan bahwa keluarga Bang Saleh adalah keluarga besar –Bang Saleh merupakan anak ke 4 dari 12 bersaudara. Air jenih dari sumur memenuhi bak kamar mandi yang didalamnya berisi ikan untuk memakan jentik-jentik nyamuk. Tempat buang air diletakkan terpisah jauh dengan kamar mandi. Kedua-duanya bersih, sangat jauh dari kesan kotor. Kamar mandi Bang Saleh sangat terbuka, tidak ada pintu yang menutupinya. Hanya dibatasi dinding bata yang dilapisi semen.

Adzan maghrib berkumandang, hidangan khas Bangka berupa bubur Jongkong, nasi ayam goreng, es selasih dengan sirup warna hijau dan segelas air putih. Sebelum dikumandangkannya adzan pertanda membatalkan puasa sudah mulai terlihat. Segelas air putih diteguk terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan makan bubur Jongkong. Bubur Jongkong adalah bubur manis berisi sum-sum warna hijau dan gula rebus di bawah lapisannya, diatasnya dilumuri kuah santan kental. Sangat manis. Pas untuk berbuka puasa. Diselingi meminum es selasih dengan sirup hijau yang dibuat oleh adik Bang Soleh. Segar. Menu Ta’jil selesai disantap, sebelum menuju makan nasi ayam goreng, keluarga melakasanakan sholat maghrib berjamaah. Ayah Bang Soleh bertindak sebagai imam. Tentram dan nyaman.  Kedekatan keluarga makin terasa saat dimulainya makan malam.

Sederhana dan Bersahaja

Banyak hal yang saya dapatkan dari tiap-tiap menit kegiatan yang saya lalui bersama keluarga Bang Soleh. Ditambah saat bercengkrama bersama Ayah Bang Soleh. Mengingatkan saya ketika buka puasa pertama kali di Thailand dan bersama dengan keluarga di rumah. Ayah Bang Soleh mengajarkan saya arti kesahajaan dan kesederhanaan. Ayah Bang Soleh selalu mengajarkan anak-anaknya untuk memiliki prinsip. Tidak ada harta bukan berarti menjual apapun yang kita miliki.

Yang saya kagumi dari keluarga ini adalah prinsip belajar agama yang indah. Ayah Bang Soleh mengajarkan agama dengan baik kepada anak-anaknya. Ayah Bang Soleh mengakui banyak anak-anak di Bangka yang nakal sehingga salah satu pelindung terakhir anak-anak adalah keluarga dan dirinya sendiri. Bang Soleh sebagai Polisi Pamong Praja benar-benar dididik untuk menjadi orang benar. Berpihak pada kebenaran. Tidak semena-mena dalam mengambil keputusan.

Pertemuan yang hanya beberapa jam ini terasa menjadi sangat luar biasa. Ingin rasanya bertemu kembali. Puasa pertama di pulau Bangka yang mantap. Saya merasakan pemaknaan yang besar ketika berdiskusi dengan keluarga Bang Soleh terutama Ayah Bang Soleh. Ayah Bang Soleh sudah menginjak umur 50 lebih, kesehatan matanya terganganggu sehingga saat ngobrol bersama saya hanya sekelebatan puith yang tampak.

Kesederhanaan yang indah saya pelajari bersama keluarga ini. Tidak ada keluhan kurang dan selalu meminta. Selalu ada motivasi untuk bekerja. Keluarga ini patut saya jadikan contoh saat saya benar-benar memiliki sebuh keluarga nantinya. Santun dan bersahaja. Itu yang selalu saya gelorakan nanti saat mulai berkeluarga. Kemudian anak-anak saya nanti yang akan meneruskan konsep keluarga menuju lingkungan luar. Menebarkan kesantunan dan kesahajaan di lingkungannya masing-masing.

Makna puasa hari ini adalah menjadi sahaja di setiap kesempatan adalah sebuah keharusan. Keluarga mengajarkan konsep sederhana dan kesahajaan tiap hari. Melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan minim dengan perkataan-perkataan cacian. Keluarga sederhana Bang Soleh di Belilik Bangka Tengah memberikan pelajaran menarik bagi keluarga-keluarga lainnya untuk mengajarkan sederhana dan kesehajaan kepada anak-anaknya. Semoga saya bisa kembali lagi dan belajar lebih banyak dengan keluarga Bang Soleh. Mengawali puasa Ramadhan 1433H dengan kesehajaan dan keserhanaan. Selamat Berpuasa Sahabat. (yogi sidik)

One thought on “Belajar Sederhana dan Bersahaja dari Keluarga Pol PP”

  1. Mantab… luar biasa… !!
    btw, Bang Soleh punya anak perempuan yg seusia ente ndak Kang? hehe.. barangkali orang tua ente bisa jadi besanan dengan anaknya Bang Soleh tersebut😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s