Unstoppable. (Quad Bike Session)

Empat roda berputar. Berjalan berurutan. Saya berada di barisan paling belakang. Kami belajar dengan sangat cepat. Mengendarai quad bike dengan kecepatan yang stabil. Tidak ada yang bisa menghentikan kami. Chris Pech, yang mengajari kita menggunakan motor-motor ini menyebut kita sebagai tim unstoppable. Melewati tanjakan, menyusuri ilalang, menerjang lubang-lubang besar dan mengikuti kelokan tajam. Kami selalu tersenyum melihat Chris. Dia selalu mencoba membuat kami bisa dan mengerti bahasa yang diucapkannya.

Mr. Chris waktu ngobrol bareng temen-temen
Mr. Chris waktu ngobrol bareng temen-temen

Tidak senyaman menggunakan skuter matic atau motor bebek yang biasa saya gunakan di Indonesia. Mengendarai motor ini ATV atau quad bikes memang berbeda. Quad bikes bisa melewati rintangan-rintangan sulit di setiap perjalanan yang kita lalui. Tidak berat. Hanya pandai mengatur kecepatan dan mengontrol kemudi. Kecepatan ATV ada di sebelah kanan. Jempol kanan bertugas mengatur kecepatan. Tangan kiri tidak banyak bekerja di jalan datar. Terkadang digunakan untuk nge-rem. Kaki kanan bertugas nge-rem dan kaki kiri mengatur gigi. Semua sudah pandai menghandlenya. Selanjutnya keberanian yang berbicara.

Setelah makan siang. Kami siap dengan air minum yang banyak. Saya membawa 2 liter air di dalam tas. Kacamata digunakan. Sunscreen kami gunakan untuk melindungi dari kemungkinan terbakarnya kulit. Rata-rata di daerah Kahterine banyak yang terkena kanker kulit karena terik matahari berlebihan menyerang kulit. Sarung tangan Wurst digunakan. Helm mengkait sempurna di kepala. Masker yang akan melindungi hidung dan mulut dari debu sudah terpasang. Berjalan dengan kecepatan biasa.

Perlengkapan aman, lanjut jalan
Gaya asoi waktu ngendarai quad bikes. Jozz.

Kamera yang saya bawa tidak tinggal diam. Tangan kiri saya mengabadikan beberapa moment menarik yang saya temui saat mengendarai ATV. Saya berada di barisan belakang. Melihat sekitarnya dan sesekali melihat teman-teman lain menambah kecepatannya. Di awal kami mengendarai Quad bikes. Medannya cukup sulit. Kami sedikit bisa mengatasinya. Hanya ada beberapa lubang yang menyebabkan motor teman saya terposok kedalam lubang. Ini mengajarkan kita bagaimana saat quad bikes terjatuh. Tenang, arahkan badan berlawanan dengan jatuhnya motor. Selanjutnya tarik motor keluar dari lubang. Jalan kembali.

Satu jatuh, semua bangkit! kecuali yang megang kamera. Peace.
Satu jatuh, semua bangkit! kecuali yang megang kamera. Peace.

Melewati barisan Imperata ciliandrica. Bunga Spikenya melambai bersamaan. Tangkainya lemah dan tenang. Tidak ada yang ditahan. Angin membuatnya menari. Menjadi lebih indah dengan deretan Cyprus rotundus dibawahnya. Tidak hanya sekumpulan warna coklat. Terdapat hijau dipinggir-pinggirnya. Leguminosa berdiri tegak di tengah-tengah ilalang. Tidak ada yang mengalahkan tingginya.

Kumpulan awan kumulus menemani perjalanan hari kedua. Lebih jauh lagi dari hari pertama. Medan yang kami lalui cukup mudah. Tetapi butuh banyak energi agar tetap konsentrasi. Tidak terulang lagi menabrak wallaby atau terjatuh diantara ilalang. Wallaby merupakan hewan khas Australia. Hampir mirip dengan kangguru. Bedanya badannya lebih kecil. Warnanya coklat keemasan.

Fresh water in the middle of nowhere
Fresh water in the middle of nowhere

Kali ini kami menyebrangi jalan umum. Quad bikes tidak boleh dibawa di jalan umum secara terus menerus. Tidak boleh membawa penumpang. Ada quad bikes khusus yang membawa 2 penumpang. Keselamatan nomor satu. Ini yang menyebabkan kita mendapatkan julukan tidak terhentikan. Melewati tanjakan buatan untuk latihan. Satu persatu kami mencobanya. Awalnya mereka gagal. Kami coba lagi dan berhasil membuat saya ketagihan mengulanginya. Tahlia kehabisan bahan bakar motornya. Sambil menunggu bahan bakar, kami terus berputar. Tahlia adalah supervisor tim kami. Menemani setiap perjalanan yang kita lakukan. Umurnya masih sangat muda. Kemampuan lapangannya cukup banyak. Kami banyak belajar darinya. Masing-masing kami mendapatkan julukan dari Tahlia. Saya dipanggilnya BooBoo. Saya nggak tahu apa artinya. Tapi itu mendekatkan kami semua.

Tiga hari kami belajar mengendarai quad bikes dan two wheel motor bikes. Setiap perjalanan kami melewati rintangan yang berbeda-beda. Tanah merah membuat lubangan-lubangan. Membuat kami terperosok. Cabang-cabang kayu menghadang perjalanan kami. Tanjakan besar membuat saya meloncat kecil. Chris selalu punya akhir perjalanan yang menyenangkan. Setiap hari kami menemui cekungan yang berisi air. Chris dan bersama teman-temannya yang membuatnya. Tampak seperti danau buatan. Saat hujan deras, cekungan mulai terisi dengan air. Ini menyegarkan. Menakjubkan dan kami terus mencarinya. Tidak terhentikan. Roda kembali berputar.

Setelah menembus ilalang, santai menikmati pemandangan. Berharap bertemu buaya. hehe
Setelah menembus ilalang, santai menikmati pemandangan. Berharap bertemu buaya. hehe

Kami menyukai tantangan. Kami tidak peduli, bisa atau tidak. Kami hanya tahu bahwa harus terus tetap berjalan mengikuti jalan-jalan berbatu. Kami dapatkan perjalanan yang sulit di hari ketiga. Kami akan mengendarai quad bikes hingga puncak tertinggi di Katherine Rural Kampus. Benar yang saya bayangkan. Jalannya akan menyulitkan dan perlu banyak konsentrasi untuk mendakinya. Tidak manual. Kami berusaha agar mesin besar ini naik keatas. Perempuan-perempuan tangguh berjalan dahulu. Saya berada di belakang.

Tidak salah Chris mengajak kita menaiki titik tertinggi di kampus ini. Menakjubkan. Bentangan langit biru dan garis lurus ditengah. Menciptakan pemandangan yang biasa saya gambar saat masih di taman kanak-kanak. Di tengah-tengahnya berdiri gagah Hills besar. Merangkul diseklilingnya dengan sangat erat. Tidak terlihat lagi bunga-bunga rosella yang kita lewati saat perjalanan. Sapi-sapi Brahman Cross juga tidak terlihat lagi kumpulannya. Kami bebas di alam.

Unstoppable Team!
Unstoppable Team! (ka-ki: Denny, Dio, Yogi, Zakir, Emily, Furqon, Izmy, Jizun)

Tidak terhentikan. Ketakutan yang terkadang membuatnya berhenti. Buang ketakutan sedikit demi sedikit. Berani adalah langkah awal untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Berani adalah langkah awal untuk tidak terhentikan. We are unstoppable. @yogisidik

4 thoughts on “Unstoppable. (Quad Bike Session)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s