In The Middle of Nowhere

Keesokan harinya setelah pulang dari Canberra. Saya harus segera berangkat menuju tempat bekerja. Seluruh baju dan barang-barang, saya kemas hingga dini hari. Tidak beraturan dan membuat koper saya semakin berat. Pagi-pagi benar, saya dan teman-teman lainnya yang mendapat jatah hari sabtu segera menuju mobil. Beberapa teman lainnya berangkat hari senin. Saya dan teman saya, Emily, akan menghabiskan waktu sekitar 4 jam perjalanan menuju tempat bekerja in the middle of nowhere.

Tidak ada satu pun bangunan. Hanya ada beberapa mobil yang terlihat. Sangat banyak pohon dan rerumputan yang kita lewati. Saya merasa kurang cukup tidur. Tidak banyak pemandangan yang saya lewati selama 1,5 jam pertama perjalanan. Sisa perjalanan berikutnya, kebosanan saya mulai terobati. Tidak lagi datar, saya melihat bukit. Tidak saya lewatkan begitu saja, sangat menarik.

Hanya Padang Rumput dan pepohonan yang terlihat
Hanya Padang Rumput dan pepohonan yang terlihat
Bukit Hijau ditengah-tengah padang rumput yang luas
Bukit Hijau ditengah-tengah padang rumput yang luas

Lanjutkan membaca In The Middle of Nowhere

Autumn in Canberra

Menikmati cahaya bulan dari ketinggian. Dari sidney menuju ibukota negara Australia, Canberra. Perjalanan dari Darwin menuju Canberra menghabiskan waktu hampir 7 jam. Lebih dekat Bali menuju Darwin, hanya sekitar 2 jam. Suhu Canberra sangat berbeda dengan Darwin. Saya dan teman-teman sampai di bandara pukul 9.30 malam dengan suhu Canberra 9 derajat celcius.

Suasananya sepi, sama seperti Darwin. Tidak banyak orang berjalan diantara deretan rapi bangunan-bangunan tua dan perumahan. Pergantian autumn menuju winter membuat pepohonan memiliki warna yang menarik. Orange, merah dan kuning. Satu persatu berterbangan diterjang angin. Saya menikmatinya dari kafe yang menyajikan menu sarapan.

Autumn In Canberra
Autumn In Canberra

Kebanyakan orang-orang di Canberra berbaju sangat rapih. Menggunakan jas hitam. Tas gantung. Membawa buku atau membaca koran. Membawa payung. Pagi ini Canberra sedikit gerimis. Secangkir Frape white sedikit mengurangi rasa dingin. Mendekatkan kami. Semua menceritakan rasa senangnya tiba di Canberra. Saya dan kedua teman saya –Deti dan Yudhis, ditemani oleh perwakilan dari NTCA –Luke Bowen, Libby, Alward, dan Andi. Mereka sangat mengerti kami.

Dinner Time!! Stand (Alward, Libby, Luke Bowen)  Sit (Yudhis, Yogi, Deti)
Dinner Time!! Stand (Alward, Libby, Luke Bowen), Sit (Yudhis, Yogi, Deti)

Mobil bewarna putih dengan mesin penghangatnya melaju menuju Parliament House. Tempat politikus-politikus Australia berkumpul. Kantor Perdana Menteri Australia, Julia Girrad. Hari ini Kamis (16/5), kami diagendakan bertemu dengan sang Perdana Menteri. Pukul 8 pagi, kami sudah berada di dalam gedung parlemen. Pengamanan yang sangat ketat dilakukan oleh pemerintah Australia. Walau sangat detail tetapi membuat kita lebih nyaman untuk beraktifitas di dalam.

Parliament House of Australia
Parliament House of Australia

Saya melihat kebanyakan orang menggunakan setelan bewarna hitam. Tidak jarang juga saya melihat yang menggunakan setelan bewarna cerah atau pakaian bebas. Jalan mereka sangat cepat. Sepertinya pekerjaan menunggu untuk diselesaikan. Cafe kopi di dalam gedung parlemen dipenuhi orang-orang yang akan bekerja. Mereka mencintai kopi. Mereka juga menyukai sandwich.

Lanjutkan membaca Autumn in Canberra