Bahasa Daerah

Usai menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Arah pikiran saya tertuju pada bahasa daerah, bahasa orang minang. Senang dapat mendengarkan orang minang berbicara. Memiliki ciri khas tersendiri. Maknanya pun berbeda. Terkadang terdengar sangat romantis. Bagaimana kabarnya Uda? Salah satu percakapan yang biasa. Tetapi menjadi tidak biasa saat ditambahkan kata “Uda” dibelakang. Tampak lebih dekat dan bersahabat. Selama menikmati Film Van Der Wicjk, saya sangat menikmati alunan bahasanya. Tenang dan tidak tergesa-gesa. Lembut tetapi tegas.

Sudah saya berkeliling beberapa daerah di Indonesia. Baru kali ini saya merasa ada yang kurang. Mempelajari bahasa masing-masing daerah. Sehingga saya menyebutnya perjalanan saya masih belum ada apa-apanya. Saya tambah saudara dan saya perlu menambah daftar bahasa  yang harus saya pelajari. Mungkin akan lebih afdol jika di CV saya ditambahkan “Linguistic capability Minang Laguange, Javanese, Borneo” atau bahasa daerah lainnya. Saya akan bawa buku kecil untuk mencatat setiap kosakata baru yang saya dapatkan.

Lanjutkan membaca Bahasa Daerah

Memulai

Saya memulainya lagi. Kali ini saya merasa dapat berpikir lebih jernih daripada sebelumnya. Saya menambah daftar bacaan dan mencoba berpikir tenang daripada sebelumnya. Hanya saja saya masih di tempat yang sama, Yogyakarta. Saya lebih menyukai tulisan-tulisan yang bersifat langsung atau “Life Report” sehingga dapat dinikmati teman-teman yang berada di seluruh tanah air bahkan yang berada di luar negeri.

Kegiatan-kegiatan lalu terlalu lama untuk diceritakan kembali. Mungkin saya akan menceritakannya kembali dengan sudut pandang yang lebih menyenangkan. Sudut pandang yang tidak biasa dan tidak sering dikerjakan oleh banyak orang. Saat ini saya bersama teman-teman lainnya juga ingin menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan cerita kerja keras selama di Australia. Tetapi, sesuai dugaan teman-teman. Hingga saat ini buku tersebut belum tersusun rapi dan jauh dari kata-kata “Diterbitkan”. Bahkan teman-teman Australia bersedia menyiapkan jasa translator untuk menerjemahkan cerita bahasa Indonesia yang kita buat. Begitu kalau saya tidak salah dengar.

Saya masih mengantungkan beberapa tulisan-tulisan yang menurut saya layak untuk diceritakan. Pengalaman menunggang kuda tanpa menggunakan sadel di Sumba dan bercengkrama bersama masyarakat peternakan di Kupang. Pengalaman pertama kali saya menseleksi mahasiswa yang akan berangkat ke Australia dan bekerja bersama orang Australia yang mengajarkan saya profesionalitas dan kerja keras. Mungkin pengalaman-pengalaman itulah yang menurut saya “terbaik” selama 2013 dan diawal 2014. Tetapi sudah berbeda tahun, saya perlu menemukan cara untuk menceritakannya lebih menarik.

Lanjutkan membaca Memulai