Bahasa Daerah

Usai menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Arah pikiran saya tertuju pada bahasa daerah, bahasa orang minang. Senang dapat mendengarkan orang minang berbicara. Memiliki ciri khas tersendiri. Maknanya pun berbeda. Terkadang terdengar sangat romantis. Bagaimana kabarnya Uda? Salah satu percakapan yang biasa. Tetapi menjadi tidak biasa saat ditambahkan kata “Uda” dibelakang. Tampak lebih dekat dan bersahabat. Selama menikmati Film Van Der Wicjk, saya sangat menikmati alunan bahasanya. Tenang dan tidak tergesa-gesa. Lembut tetapi tegas.

Sudah saya berkeliling beberapa daerah di Indonesia. Baru kali ini saya merasa ada yang kurang. Mempelajari bahasa masing-masing daerah. Sehingga saya menyebutnya perjalanan saya masih belum ada apa-apanya. Saya tambah saudara dan saya perlu menambah daftar bahasa  yang harus saya pelajari. Mungkin akan lebih afdol jika di CV saya ditambahkan “Linguistic capability Minang Laguange, Javanese, Borneo” atau bahasa daerah lainnya. Saya akan bawa buku kecil untuk mencatat setiap kosakata baru yang saya dapatkan.

Ratusan bahasa itu kekayaan Indonesia. Menikmatinya adalah salah satu cara menghargai masing-masing budaya. Jika saya sudah cukup merasa nyaman di Jawa tetapi saya masih tidak menguasai betul bahasa Krama yang biasa dipergunakan oleh masyarakat. Kemana saja kita? Masih terlalu sibuk mempelajari bahasa asing tetapi lupa bahasa sendiri. Saya masih men-cap diri saya perlu belajar lagi. Kita tinggal di Indonesia tetapi masih minim bahasa daerah. Kadang-kadang saya suka grogi jika diperkenankan untuk berbicara dihadapan masyarakat tetapi masih menggunakan bahasa Indonesia. Harusnya menggunakan bahasa Krama. “Saene Basa Krama mas”. Malu saya, orang jawa tetapi belum mengerti betul Bahasa Krama. Ada yang mau mengarjakannya kepada saya? Sekarang saya bersedia.

Setidaknya alunan gamelan membantu saya untuk belajar bahasa Jawa. Begitu pula dengan lainnya. Saya ingin membaca beberapa hikayat di setiap daerah. Menikmati kosakata-kosakata yang berbeda. Ada yang berminat mengajak saya untuk mengelilingi Indonesia. Ini salah satu mimpi saya. Tinggal di daerah, belajar bahasanya selama beberapa bulan. Saya ciptakan peternakan kecil disana sebagai sarana untuk mendapatkan penghidupan. Setidaknya saya sudah mengarah kepada impian itu. Saya punya beberapa teman di daerah yang dapat membantu merealisasikan. Kami akan merealisasikannya bersama. Mempelajari bahasa langsung ditempatnya.

Kembali pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Mengajarkan saya untuk memahami lagi bahasa daerah yang ada di Indonesia. Satu persatu saya akan pelajari. Dimulai dari Jawa dan Minang, selanjutnya bahasa-bahasa lainnya. Untuk saat ini saya tertarik dengan dua bahasa ini. Terdengar romantis dan berbeda. Ada yang mau mengajak saya Les bahasa daerah?

4 thoughts on “Bahasa Daerah”

  1. lama lama bahasa daerah akan punah..kalau kita perhatikan skrg, anak2 kecil di jogja saja jarang yang komunikasinya menggunakan bahasa jawa. anakku aja ngertinya bahasa ngoko, nggak ngerti boso jowo kromo *merasa bersalah*

  2. Cita-Cita hera tuh bang, buka peternakan dgn berbagai cabang di indonesia.. Hehehe
    ayok bang belajar🙂
    insyaallah akan kesampaian tuh bang, amin amin amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s