Arsip Kategori: cerita pendek

Andai Saya Jadi Presiden*

Sebuah tulisan singkat untuk ulang tahun Indonesia

Saat saya terbang menggunakan maskapai kebanggaan Indonesia ini, rasa nasionalisme saya tiba-tiba menggelora. Saat melihat keindahan alam Indonesia dari atas udara serasa mengibarkan bendera merah putih di dalam dada. Gunung-gunungnya yang menjulang tinggi, pantai-pantai yang menyentuh pasir putih dan sungai panjang yang berkelok-kelok. Perpaduan indah yang Tuhan ciptakan untuk Indonesia. Mengolahnya menjadi sebuah kewajiban. Selanjutnya menikmatinya adalah hak setiap warna negara. Saat di dalam pesawat, saya selalu berpikir seandainya menjadi seorang pemimpin Republik ini, Presiden Republik Indonesia. Dari setiap awan yang dilewati pesawat, saya melihat gambaran-gambaran Indonesia di masa akan datang.

Memimpin, mengolah sumber daya alam dan manusianya, bertemu dengan masyarakat Indonesia dan bekerja bersama-bersama untuk negara. Tidak ada yang lebih baik daripada memberikan segala kemampuan yang kita miliki untuk bangsa dan negara. Tempat dimana kita dilahirkan. Tempat yang selalu memberikan ruang untuk menuliskan cita-cita. Layaknya Soekarno yang selalu cerdas dalam menuliskan semua keinginan untuk bangsanya. Menggelorakan semangatnya dihadapan masyarakat Indonesia.

Menjadi Presiden  berarti tahu kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh Indonesia. Dari atas udara merupakan salah satu tempat yang tepat untuk menyusun satu strategi merenovasi Indonesia. Saya akan menuliskan strategi merenovasi Indonesia. Mengenal lebih dekat Indonesia. Mengerti keluhan masyarakat Indonesia. Saya akan mengunjungi semua pulau yang dimiliki oleh Indonesia. Dari pulau Sabang hingga Pulau Rote. Pulau-pulau terpencil saya lengkapi dengan teknologi informasi dan komunikasi yang memadai sehingga pulau tersebut diketahui banyak orang.  Kita tidak akan tahu mengenai keluhan masyarakat tanpa kita mengetahuinya secara langsung. Turun ke jalan, melihat kondisi nyata masyarakat.

Bekerja bersama seluruh elemen keamanan negara dan masyarakat untuk menjaga daerah terluar Indonesia. Membangun fasilitas-fasiltas penguatan ekonomi masyarakat dan pelestarian infrastruktur untuk mendukung roda ekonomi daerah. Membangun desa menjadi lebih banyak lapangan pekerjaan tersedia. Kesehatan yang terjamin dan keamanan yang tidak diragukan lagi. Mencontoh semangat Soeharto yang melaksanakan pembangunan Indonesia dengan sangat baik. Atau mencontoh semangat Megawati yang selalu menitikberatkan rakyat kecil dalam setiap pembangunannya.

Harus bisa menutup celah-celah korupsi bersama tim khusus yang sangat dijaga kerahasiaannya. Memiliki kepercayaan yang tinggi untuk menjaga keamanan keuangan negara. Menjaga stabilitas dan mengurangi kerugian negara oleh pihak-pihak yang mementingkan diri sendiri dan golongannya. Saat menjadi presiden berarti saya perlu memilih orang-orang sesuai ahlinya untuk membangun Indonesia. Nasionalisme itu perlu dibangun bersama. Mengambil alih kembali harta-harta Indonesia yang selama ini masih dikuasai oleh asing. Membangun bersama bukan berarti memberikan semua yang kita miliki dan melupakan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Masyarakat Indonesia berhak makmur dari kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Kekayaan Indonesia bukan untuk dinikmati untuk segelintir orang. Tetapi milik bersama. Dijaga dan dilestarikan. Seperti Susilo Bambang Yudhoyono dalam menjaga stabilitas negaranya.

Memang akan sangat sulit untuk menerapkan idealisme dalam kurung kebobrokan moral dan lemahnya etos kerja. Pendidikan moral dan etos kerja wajib dimiliki setiap warga negara Indonesia yang menginginkan pembangunan bangsanya. Jika memiliki pemikiran yang sama tanpa diracuni untuk menjatuhkan Indonesia maka akan mewujudkan Indonesia yang sejahterah. Jauh dari kemiskinan, kekurangan gizi dan kerendahan moral. perlu menemukan sosok Gus Dur yang memiliki kematangan berpikir, kekayaan intelektual nyata, idealisme dan moral yang baik.

Menciptakan pendidikan yang ramah otak. Memberikan pelajaran-pelajaran terbaik yang memang dibutuhkan untuk masyarakat dan membangun Indonesia. Sejak dini ditanamkan semangat nasionalisme. Pelajaran-pelajaran utama adalah membangun Indonesia dengan ilmu-ilmu yang telah dimiliki. Saya akan membuat sekolah-sekolah yang dekat dengan alam.  Kita Tidak membebankan dengan hasil yang sangat memuaskan sehingga menghalalkan kegiatan-kegiatan curang dalam berpendidikan. Mencetak Habibie berikutnya yang mampu berkarya untuk bangsanya. Menyemai semangat Habibie dalam hati pejuang-pejuang kemerdekaan masa depan.

Semangat nasionalisme yang berkobar di dalam hati merupakan cikal bakal keinginan untuk menjadi seorang presiden di Indonesia. Mengibarkan bendera merah putih dapat dilakukan dimana saja termasuk di dalam hati kita. Menjadi Presiden berarti siap untuk melayani sepenuh hati masayarakat Indonesia dan membangun Indonesia untuk kesejahteraan setiap warga negara yang tinggal di dalamnya. Selamat Ulang Tahun Indonesia.

Lomba Blog FekTIK Sul-Sel Kab.Sinjai 2013

Komunitas Blogger Sinjai (KBS)

*Yogi Sidik Prasojo

Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta 

Pembelaan yang Berdosa

muslimah-eye1

‘Azzah adalah wanita pujaan Kutsayyir. Ia diminta menghadap Ummul Banin binti ‘Abdul’Aziz bin Marwan, saudara perempuan ‘Umar bin ‘Abdul’ Aziz.

“’Azzah, apa makna perkataan Kutsayyir pada syair ‘Semua orang yang berhutang membayar hutangnya; sedang orang yang dihutangi ‘Azzah dikecewakan olehnya’? Apa maksud hutang yang disebutkan ini?” Tanya Ummul Banin.

“Maafkanlah aku,” jawab ‘Azzah.

“Kamu harus menceritakannya kepadaku,” desak Ummul Banin.

“Dulu aku pernah menjanjikan sebuah ciuman untuknya, lalu aku merasa risih melakukannya dan tidak menepati janjiku,”jawab ‘Azzah.

“Tepatilah janjimu kepadanya! Akulah yang akan menanggung dosanyanya! Jamin Ummul Banin untuk ‘Azzah.

Tapi tak berselang lama Ummul Banin tersadar atas kesalahannya. Ia memohon ampun kepada Allah. Karena perkataannya tersebut, ia memerdekakan empat puluh budak. Setiap kali teringat perkatannya itu, ia menangis hingga kerudungnya basah. “Oh, mengapa lidahku tidak bisu saja ketika aku mengucapkannya!”

Lanjutkan membaca Pembelaan yang Berdosa

Pertama Kali “Turun Ke Jalan”

LANGKAH AWAL MEMULAI PERUBAHAN
Yogi S Prasojo

“….tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang, pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu alam, kau akan tahu siapa dirimu
yang sebenarnya hakikat manusia
akan aku telusuri jalan yang setapak ini
semoga kutemukan jawaban… (Ost.Gie)”

Sebuah syair perjuangan yang menjadi soundtrack film yang dibuat oleh anak negeri ini mengilhami saya mulai bertindak seperti ini. ”Gie”, merupakan film yang menceritakan perjalanan seorang demonstran yang luar biasa dan mampu mendongkrak semangat generasi muda. Dari lorong kegelapan berharap mendapat pencerahan dan menumpas ketidak adilan yang ada di sekitar untuk kepentingan orang banyak. Terlalu berlebihan mungkin jika ingin melindungi seluruh rakyat Indonesia, Presiden saja yang telah memiliki kekuasaaan dan kemampuan yang cukup untuk melindungi tidak mampu sepenuhnya melindungi warga negara Indonesia yang katanya beliau cintai dan sayangi.
Suara-suara dari akar rumputlah yang sedikit mampu menolong masyarakat Indonesia. Negeri ini ditangan rakyat. Negeri ini dibentuk oleh rakyat. Hasilnya pun untuk rakyat bukan kesenangan golongan-golongan tertentu. Jangan sampai merebut nyawa seseorang hanya karena kesalahan orang-orang besar, ambil saja satu contoh di Makasar yang merupakan negeri lumbung padi di Indonesia ini terdapat seorang ibu meninggal bersama kandungannya dikarenakan kurang asupan gizi. Milik siapa lumbung padi kita? Milik mereka yang kini tertawa terbahak-bahak diatas penderitaan orangkah? Saya harap itu milik kita.
Pikiran-pikiran itulah yang terbersit dari saya untuk turun ke jalan bersama teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melakukan aksi menolak ketidak adilan dan menumpas segala kebobrokkan negara. Saat itu tanggal 20 Februari 2008, saya bersama teman-teman BEM menyusuri jalan Yogyakarta untuk menuntaskan kasus mantan presiden Soeharto yang tidak kunjung kuncup dan para tersangka serasa terus berlari dari kesalahan. Aksi dengan mengusung tema “Aksi Diam” sampai puncak di kawasan Yogyakarta km 0.
Ini adalah awal kali saya ikut aksi turun ke jalan.
Lanjutkan membaca Pertama Kali “Turun Ke Jalan”

Metamorfosis Selamatkan Bangsa

Yogi S. Prasojo*

Tentang aku, tidak cukup banyak yang mampu kuceritakan. Hal-hal yang ingin ku katakan tak mampu menyelinap keluar dari otak yang maha dasyhat telah dibuat sang pencipta ini. Berbicara tentang aku, sama halnya seperti orang kebanyakan yang memiliki banyak kekurangan dan juga memiliki kelebihan yang diberikan Allah SWT. untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Sistem tubuh yang maha sempurna dan dilengkapi dengan organ-organ yang mampu menyeimbangkan sistem tubuh ini serasa tidak adil jika hanya aku gunakan untuk kepentingan diriku sendiri dan berdiam diri saja dalam kebinasaan.

Saat aku menoleh sedikit keluar jendela yang mulai suram tertutup oleh debu. Terlihat ribuan rakyat disebuah negeri di balik jendela suram merasa kesakitan. Mereka serasa ditendang dan diinjak oleh kaki besar ditambah sepatu-sepatu berat yang entah dari mana mereka dapatkan. Terlihat dari jendela, pemimpin negeri itu berjalan-jalan kecil sambil melambaikan tangan seperti memainkan sebuah permaianan lempar dadu dan tidak bertanggung jawab di atas jalan punggung rakyat. Duduk di sebuah kursi besar nan nyaman, karena mereka tidak mampu berjalan jauh mencapai rakyatnya –tidak seperti kampanye, dimanapun daerahnya pasti mereka akan melangkah kesana–, usia dijadikan alasan. Dibuat peraturan-peraturan yang hanya membuat manusia-manusia itu mengencangkan ikat pinggang dan melebarkan sayap untuk segera terbang tinggi nun jauh disana. Lampu-lampu hemat energi yang menerangi jalan mereka tidak mampu lagi menyala. Mereka kebingungan mencari bahan bakar alternatif yang semakin tidak alternatif dan semakin menghancurkan untuk menghidupkan lampu-lampu itu. Negeri itu terlihat mulai krisis, rakyatnya kacau balau terlihat sekali dari dalam jendela. Harta yang berlimpah ditimbun sendiri untuk keperluan-keperluan sesaat –atau jangka panjang untuk persiapan kampanye lima tahun mendatang–. Pernyataan klise kembali dikeluarkan dan memunculkan euforia rakyat-rakyatnya namun tak lama kemudian lenyap termakan rayap.

Lanjutkan membaca Metamorfosis Selamatkan Bangsa