Samak Minyak, Samak Perkamen/Vellum, dan Samak Putih

Kulit samak merupakan salah satu jenis teknologi kulit. Sebelum melakukan penyamakan, minimal kita perlu mengetahui dulu mengenai struktur kulit. Kulit memiliki komposisi kandungan air 65%, protein 33%, lemak 2-10%, dan mineral 0.5%.  Kulit terdiri epidermis, corium atau derma, dan hypodermis. Sel-sel di permukaan epidermis lama kelamaan akan berkurang makanannya dan mengering. Corium atau derma merupakan kulit asli atau kulit yang akan disamak. Corium terdiri dari serat-serat tenunan pengikat. Terdapat tenunan kolagen, elastin dan retikular. Hypodermis merupakan lapisan yang terletak diantara epidermis dan derma. Para menyamak terbiasa menamakan tenunan daging. Sebelum dilakukan penyamakan, bagian ini akan dibuang secara mekanik yang disebut fleshing.

                Penyamakan kulit merupakan proses untuk mengubah kulit mentah menjadi stabil keadaannya. Jika keadaannya stabil maka akan tahan lebih tahan lama karena mikrobia akan terhambat. Maka proses penyamakan dilakukan agar kulit menjadi tahan lama. Sebelum dilakukan penyamakan terlebih dahulu dilakukan pengawetan. Pengawetan kulit dilakukan karena kolagen kulit akan mengalami perubahan setelah pemotongan karena berhentinya suplai oksigen dan nutrien. Aktifnya enzim proteolitik yang terdapat pada lysosom dan diikuti terjadinya autolisis dengan radiasi komponen-komponen jaringan kulit. Setelah dilakukan pemotongan, kulit ternak rusak 25% diikuti oleh kombinasi aktivitas enzim dan bakteri maupun non bakteri. Nah…pengawetan dikatakan baik jika semua jaringan kulit yang bermanfaat untuk proses penyamakan dapat dipertahakankan dan tidak mengalami perubahan terutama protein kolagen.

Banyak proses atau teknik penyamakan yang dilakukan oleh industri kulit samak. Kali ini kita kupas tiga metode penyamkan yaitu amak minyak, samak perkamen, samak putih dan limbah yang dihasilkan oleh samak krom. Khusus untuk krom kita perlu banyak tahu mengenai penanganan limbahnya.

Samak Minyak

Samak minyak adalah teknik penyamakan yang telah dilakukan sejak dahulu kala. Zaman dahulu, kulit dibiarkan direndam dalam kotoran sapi dan dibiarkan sampai mulai terjadi pembusukan superfisisal. Kemudian rambut dari kulit akan lepas dan mulai dibersihkan dengan jalan dikerok. Kulit yang dikerok dilaburi dengan sumsum dan otak pada permukaan daging. Wah, kalau sekarang masih pake sumsum dan otak bakal jadi ngeri proses penyamakannya hehehe…

Lanjutkan membaca Samak Minyak, Samak Perkamen/Vellum, dan Samak Putih

Iklan

Penghentian Ekspor Sapi dari Australia, Siapa Takut!*

picture from bumn.go.id
picture from bumn.go.id

Pemerintah Australia melakukan penghentian penjualan sapi bakalan ke Indonesia sejak 8 Juni 2011 hingga enam bulan mendatang. Kebijakan tersebut timbul sejak mencuatnya hasil investigasi dua organisasi dari Australia ke 11 rumah pemotongan hewan (RPH) di Indonesia bulan Maret 2011 dan ditayangkan di ABC Four Corners tanggal 30 Mei 2011. Tidak hanya laporan media, pihak pemerintahan Australia tentu melakukan penghentian atas dasar pertimbangan politik dan jajak pendapat yang dilakukan kalangan pemerintah maupun rakyat setempat. Setidaknya 250.000 warga di Australia menandatangani surat pelarangan ekspor sapi ke Indonesia.

            Pihak Australia menganggap pemotongan ternak sapi di 11 rumah potong hewan yang dilakukan kunjungan tidak mengikuti aturan kesejahteraann hewan. Lima prinsip (free freedom) yang diadopsi dunia Internasional pada 1979 meliputi (1) Bebas dari rasa haus dan lapar; (2) Bebas dari rasa menderita; (3) Bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; (4) Bebas mengekspresikan perilaku normal; dan (5) Bebas dari rasa takut dan tertekan.

            Dalam gambar yang diperlihatkan oleh ABC adalah dalam satu bagian dipertunjukkan pisau yang digunakan untuk memotong leher sapi tidak memadai karena terlampau kecil. Tukang jagal juga memukul kepala sapi dengan tali dan sapi yang sudah terbaring kesakitan diguyur dengan air (Kompas, 18/6).

Pemotongan Ternak di Indonesia

            Sebagian besar pemotongan ternak di Indonesia menggunakan teknik pemotongan sesuai kaidah agama Islam. Teknik pemotongan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pemotongan secara langsung dapat dilakukan apablia ternak dinyatakan sehat dan langsung disembelih pada bagian leher dengan memotong arteri karotis, vena jugularis dan esofagus. Pemotongan tidak langsung, ternak dilakukan pemotongan saat ternak sudah dipingsangkan (Soeparno, 2005). Di Australia pemingsanan sapi dilakukan dengan menggunakan pistol yang memiliki daya listrik tinggi yang ditembakkan di bagian kepala. Dilakukan pemingsanan adalah untuk memudahkan pelaksanaan penyembelihan, ternak tidak tersiksa, dan agar kualitas kulit dan karkas lebih baik (Soeparno, 2005).

Lanjutkan membaca Penghentian Ekspor Sapi dari Australia, Siapa Takut!*